Jumat, 15 Februari 2013

Rectoverso






Dengan lima sutradara perempuan yang biasanya berakting adegan demi adegan di depan kamera, Rectoverso terlihat seperti uji coba besar dengan nyali besar. Rectoverso adalah sebuah omnibus yang diangkat dari kumpulan cerpen populer karangan Dewi Lestari berjudul sama, yang disutradarai oleh Marcella Zalianty, Olga Lydia, Cathy Sharon, Happy Salma, dan Rachel Maryam.

Dari sebelas cerita yang ada di buku Rectoverso, Marcella Zalianty (yang juga sebagai produser film ini) hanya memilih lima kisah untuk diangkat karena kisah-kisah lainnya secara teknis akan sulit untuk divisualisasikan. Dengan penceritaan yang kesemua segmennya dicampurkan, Malaikat Juga Tahu menceritakan tentang Abang (Lukman Sardi), pengidap autis yang mahir menggesekkan biolanya dengan irama yang menggetarkan, putera dari ibu pemilik sebuah kos (Dewi Irawan). Setiap pagi Abang dengan rutin mengetuk pintu kamar para penghuninya untuk menagih cucian yang akan di laundry, termasuk pintu kamar Leia, perempuan yang ia cintai.

Cicak di Dinding menceritakan kisah Taja (Yama Carlos) yang mampu menggambar sketsa apapun dalam suasana hati apapun, dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan cantik dengan prinsip hidup bebas. Seperti biasa, harus ada salah satu dari mereka yang menjauh. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali dengan garis nasib masing-masing. 

Firasat mengisahkan Senja (Asmirandah), perempuan yang sering merasakan firasat-firasat yang membuat dirinya tak nyaman. Walau hampir satu tahun bergabung dengan Klub Firasat, selama ini ia hanya mendengarkan kawan-kawannya sharing tanpa pernah ikut mencurahkan apa yang dirasakannya. Tetapi sang ketua klub, Panca (Dwi Sasono,) yang lembut bicaranya dan berkharisma pembawaannya itu tak pernah protes. Sinar mata mereka yang kontras dalam menghadapi firasat justru mendekatkan keduanya. 

Curhat Buat Sahabat mengisahkan dua sahabat, Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo). Perempuan yang supel dan ceria—dengan pacar yang sering mengecewakannya itu—sering curhat dan seperti biasa Reggie selalu mendengarkannya dengan khidmat tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan ketika Amanda sakit, Reggie tak absen menemaninya. 

Hanya Isyarat menceritakan tentang lima backpackers yang akhirnya kopi darat, setelah sebelumnya hanya saling sapa lewat forum milis. Al (Amanda Soekasih) yang sendirian perempuan dikopi darat itu, dengan tetap menikmati, lebih nyaman mengamati dan menjaga jarak dengan Raga, Bayu, Dali, dan Tano. Tetapi dengan begitu, Al jadi lebih leluasa mengamati Raga (Hamish Daud), seseorang yang ia ingin tahu warna matanya. 

Walaupun berupaya mewakili konsep cinta yang berbeda, Rectoverso adalah film tentang sebuah cinta yang tak tuntas. Hal ini juga masih dapat diperdebatkan—apakah cinta yang sempurna harus saling memiliki? Cerita cinta beraroma kepahitan semacam ini akan dikatakan cukup berhasil apabila: skenario yang rapi dengan dialog yang jujur (untuk memberikan ciri khas pada setiap karakter) dan chemistry antar setiap pemain. Tidak mengherankan jika ada bagian yang lemah pada kelima segmen film ini. Namun suguhan kelima wanita sutradara muda ini amat layak untuk disaksikan dengan departemen aktingnya yang baik dan beberapanya luar biasa seperti Dewi Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Dwi Sasono, Indra Birowo dan Acha Septriasa.  

Dengan iringan magis Glenn Fredly sebagai KO punch, jelas bahwa dalam dunia Rectoverso, cinta adalah pemenuhan keinginan mereka setiap menit dalam hidup. Cinta yang sempurna mungkin akan menjadikan hidup mereka utuh, paripurna. Tetapi cinta yang tak tuntas, barangkali akan memberikan rangkaian gambar masa depan mereka yang masih harus diraba.









4/5

Jumat, 08 Februari 2013

Hope Springs





“I have patient who never should have gotten married. And you are not those people.”

Wajar bila hubungan suami-istri tak selamanya adem ayem bak teduhnya pohon Trembesi di Kebun Raya Bogor. Termasuk bila tak ada lagi getaran pada pagi hari ketika prosesi sarapan berlangsung, dan ketika malam hari saat keduanya meluncur begitu saja memasuki kamar tidur masing-masing.

Tetapi durasi hal tersebut mengganggu Kay (Meryl Streep). Apalagi sang suami, Arnold (Tommy Lee Jones), tak menunjukkan tanda-tanda ingin me-rebuild pernikahannya. Pergi menemui konsultan pernikahan, Dr. Bernard Feld (Steve Carell), adalah ide yang ditawarkan Kay pada Arnold dan tentu saja awalnya Arnold menolak mentah-mentah rencana klise itu—juga perkara biaya konsultasinya yang tak murah—meski akhirnya ikut juga.


Sementara Arnold terus ngedumel dan Kay senantiasa memerhatikan, Dr. Feld menyodori beberapa pertanyaan yang kadang membuat keduanya tergeragap, tentunya juga dengan nasihat—atau perintah—exercise yang harus dilakukan keduanya ketika mereka keluar dari ruang konsul. Perkembangan-perkembangan dari wejangan Dr. Feld yang mereka lakukan—meski kadang tak melulu lancar—pelan-pelan membuat keduanya sedikit banyak memahami apa yang sebetulnya selama ini ingin mereka rasakan dan tidak mereka rasakan.

Ini adalah drama keluarga yang mendung, namun terbalut oleh gelora optimisme, dengan sisipan komedi yang sama sekali tidak berlebihan. Sang sutradara, David Frankel, juga amat terbantu dengan jajaran pemain yang diisi oleh Tommy Lee Jones, Meryl Streep, dan Steve Carell yang begitu brilian. Bagaimana chemistry Kay dan Arnold sebagai suami-istri, juga keduanya dengan sang konsutan, Dr. Feld. Begitu solid dan terasa amat suai.

Naskah film yang ditulis Vanessa Taylor ini sebetulnya juga sederhana: suami-istri yang lelah diterpa kemuraman, dan berusaha menelusuri jejak getar yang hilang. Tetapi sebetulnya hal itu hanya bagian sekunder di bawah: bagaimana nurani mereka mengatakan perlu tidaknya satu sama lain.
 


 






4/5

Jumat, 11 Januari 2013

Nominasi Piala Oscar ke-85





Penyerahan Piala Oscar akan diselenggarakan di Dolby Theatre, Los Angeles, pada tanggal 24 Februari. Berikut ini adalah nominasi Academy Awards ke-84:


BEST PICTURE
Zero Dark Thirty
Silver Lining Playbook
Lincoln
Les Miserables
Life of Pi
Amour
Django Unchained
Argo 
Beasts of the Southern Wild
 

BEST ACTRESS
Jessica Chastain for "Zero Dark Thirty"
Naomi Watts for "The Impossible"
Jennifer Lawrence for "Silver Linings Playbook"
Quvenzhane Wallis for "Beasts of the Southern Wild"
Emmanuelle Riva for "Amour"


BEST ACTOR
Daniel Day-Lewis for "Lincoln"
Denzel Washington for "Flight"
Joaquin Phoenix for "The Master"
Hugh Jackman for "Les Miserables"
Bradley Cooper for "Silver Linings Playbook"


BEST SUPPORTING ACTRESS
Anne Hathaway for "Les Miserables"
Sally Field for "Lincoln"
Jacki Weaver in "Silver Linings Playbook"
Helen Hunt for "The Sessions"
Amy Adams for "The Master"


BEST SUPPORTING ACTOR
Tommy Lee Jones for "Lincoln"
Phillip Seymour Hoffman for "The Master"
Christoph Waltz for "Django Unchained"
Alan Arkin for "Argo"
Robert De Niro for "Silver Linings Playbook"


BEST DIRECTOR
Ang Lee for "Life of Pi"
Steven Spielberg for "Lincoln"
David O. Russell for "Silver Linings Playbook"
Michael Haneke for "Amour"
Benh Zeitlin for "Beasts of the Southern Wild"


BEST ADAPTED SCREENPLAY
"Lincoln"
"Silver Linings Playbook"
"Argo"
"Life of Pi"
"Beasts of the Southern Wild"


BEST ORIGINAL SCREENPLAY
"Zero Dark Thirty"
"Django Unchained"
"Moonrise Kingdom"
"Amour"
"Flight"


BEST ANIMATED FILM
"Frankenweenie"
"The Pirates! Band of Misfits"
"Wreck-It Ralph"
"Paranorman"
"Brave"


BEST FOREIGN FEATURE
"Amour"
"A Royal Affair"
"Kon-Tiki"
"No"
"War Witch"


BEST VISUAL EFFECTS
"Life of Pi"
"The Hobbit: An Unexpected Journey"
"The Avengers"
"Prometheus"
"Snow White and the Huntsman"


BEST CINEMATOGRAPHY
"Skyfall"
"Anna Karenina"
"Django Unchained"
"Life of Pi"
"Lincoln"


BEST COSTUME DESIGN
"Anna Karenina"
"Les Miserables"
"Lincoln"
"Mirror Mirror"
"Snow White and the Huntsman"


BEST DOCUMENTARY (FEATURE)
"Searching for Sugar Man"
"How to Survive a Plague"
"The Gatekeerpers"
"5 Broken Cameras"
"The Invisible War"


BEST DOCUMENTARY (SHORT)
"Open Heart"
"Inocente"
"Redemption"
"Kings Point"
"Mondays at Racine"


BEST FILM EDITING
"Lincoln"
"Silver Linings Playbook"
"Life of Pi"
"Argo"
"Zero Dark Thirty"


BEST MAKEUP
"The Hobbit: An Unexpected Journey"
"Les Miserables"
"Hitchcock"


BEST MUSIC (ORIGINAL SCORE)
Mychael Danna for "Life of Pi"
Alexandre Desplat for "Argo"
Dario Marianelli for "Anna Karenina"
John Williams for "Lincoln"
Thomas Newman for "Skyfall"


BEST MUSIC (ORIGINAL SONG)
"Before My Time" from "Chasing Ice" (Music and Lyric by J. Ralph)
"Everybody Needs A Best Friend" from "Ted" (Music by Walter Murphy; Lyric by Seth MacFarlane)
"Pi's Lullaby" from "Life of Pi" (Music by Mychael Danna; Lyric by Bombay Jayashri)
"Suddenly" from "Les Misérables" (Music by Claude-Michel Schönberg; Lyric by Herbert Kretzmer and Alain Boublil)
"Skyfall" from "Skyfall" (Music and Lyric by Adele Adkins and Paul Epworth)


BEST SOUND EDITING
"Argo"
"Django Unchained"
"Life of Pi"
"Skyfall"
"Zero Dark Thirty"


BEST SOUND MIXING
"Argo"
"Les Miserables"
"Life of Pi"
"Skyfall"
"Lincoln"


BEST SHORT FILM (LIVE ACTION)
"Curfew"
"Death of a Shadow"
"Henry"
"Buzkashi Boys"
"Asad"


BEST SHORT FILM (ANIMATED)
"Head Over Heels"
"Fresh Guacamole"
"Paperman"
"Maggie Simpson in The Longest Daycare"
"Adam and Dog"



Kamis, 06 September 2012

Test Pack


 




Begitu segala kesibukkan pelan-pelan pamit dari keseharian, Rahmat dan Tata kerap langsung nyungsep ke ranjang, dalam rangka ikhtiar untuk mendapatkan anak. Apalagi ibunda Rahmat jarang absen menelpon, meski hanya sekadar menyuruh cuti untuk pulang ke Bandung, karena mengganggap udara di sana lebih mendukung tujuan mulia tersebut.

Namun di tahun ketujuh ini, mereka goyah.

Apa yang dilakukan pasangan muda tersebut, yang merasa bahwa tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menghadirkan tangisan bayi dalam rumah tangga mereka? Mereka pergi ke dokter kandungan bernama Peni (Oon Project Pop), dan menganggukkan kepala ketika dokter menyarankan untuk dilakukan proses invitro, dengan menyuntikkan hormon ke tubuh Tata. Tentu saja mereka harap-harap cemas dengan proses ini, bukan karena rasa sakit atau kerepotannya, melainkan lebih karena harus berhadapan dengan gempuran psikologis jikalau proses ini pada akhirnya tak juga membuahkan hasil.

Di angkat dari novel best seller berjudul sama karya Ninit Yunita, film ini adalah refleksi yang baik untuk perenungan bagi remaja yang sedang dibakar asmara dan nantinya akan menikah, bagi suami istri, dan tentunya bagi keluarga.

Plot film ini juga tak terlalu kompleks. Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa), pasangan muda dengan kehidupan urban, harus sekuat tenaga menghadapi rong-rongan mental yang makin ke sini dirasa makin menjadi masalah. Di masa-masa rawan itu, hadir sosok perempuan bernama Shinta (Renata Kusmanto), seorang super model Indonesia yang mendunia, mantan pacar Rahmat.

Shinta yang baru cerai dengan Heru (Dwi Sasono)—karena tak mampu memberikan keturunan—entah kena angin apa ujug-ujug ingat Rahmat. Pertemuan langsung Rahmat dengan Shinta ini pun juga tak disengaja dan atas nama perasaan senasib, mereka akhirnya kerap melakukan pertemuan diam-diam yang akhirnya diketahui Tata. “Saat saya sedang susah-susahnya nerima keadaan kamu, kamu di mana??” Hubungan sang pasangan muda berkehidupan urban menuju jurang.

Dihadirkan dengan dialog natural dan acap kali jenaka, film ini berkisah dengan fasih. Departemen akting pengisi film ini mesti diacungi jempol. Yang paling menyita perhatian tentu saja Reza Rahadian dan Acha Septriasa, di samping Uli Herdinansyah. Juga duet kocak Meriam Bellina dan Jaja Mihardja, serta si-selalu-tampil-brilian-Dwi Sasono. Dan jika memang diperlukan pembawaan yang tenang dan tak berlebihan, Renata Kusmanto juga tampil cukup meyakinkan.

Lewat film ini, banyak sisi kehidupan yang riil, penuh pembelajaran yang dapat dipetik, baik untuk kalangan yang sudah menikah maupun remaja yang nanti akan menikah. Test Pack menjadi penting posisinya, lantaran tema tentang pasangan suami istri dengan segala dinamikanya memang seakan luput dari teropong perfilman kita dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Diutarakan oleh Ninit Yunita, seringkali kita mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak berubah—entah jadi jahat, jadi tidak pintar, atau jadi miskin. Will you still love them, then? 




 
4/5