Tampilkan postingan dengan label Chloë Grace Moretz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chloë Grace Moretz. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2013

Kick-Ass 2 (2013)






“Hey, whoa. Absolutely not.”
“Fine.”

Tiba-tiba suara letusan pistol terdengar, ditembakkan oleh seorang gadis ABG yang cengar-cengir. Di hadapannya, seorang lelaki muda terjengkang setelah dadanya menerima sebutir peluru tadi.

Gadis tersebut adalah Mindy Macready alias Hit-Girl (Chloë Grace Moretz), si ahli tarung yang baru berusia lima belas tahun tetapi sanggup membunuh siapapun hanya dengan jari yang dibunuhnya. Sementara si pemuda terjengkang—yang untungnya memakai rompi anti peluru itu—adalah Dave Lizewski alias Kick-Ass (Aaron Taylor-Johnson), superhero bodong yang namanya mencuat karena tindakannya yang terobsesi sebagai pelindung kaum lemah. Pada adegan penembakan tersebut—dulu adegan ini dilakukan oleh Mindy dan ayahnya—Dave tengah menimba ilmu pada Mindy.

Sayang, kegiatan mereka belakangan diketahui Marcus (Morris Chestnut), wali yang kini mengasuh Mindy, yang tak henti-hentinya berupaya agar Mindy tumbuh seperti sebetul-betulnya gadis berusia lima belas tahun. Mindy pun akhirnya disibukkan dengan tetek bengek persekolahan yang menurutnya nonsens: klub dance, rencana party, kencan, dan tentunya pengkhianatan. Sementara kegiatan menimba ilmu tadi mandek, dalam kekosongannya Dave pun mencari dan akhirnya menemukan kumpulan orang-orang yang juga kerap menggunakan jubah dan topeng ke manapun mereka pergi—mereka sendiri terinspirasi oleh Kick-Ass. Jadi kini ia bergabung bersama Night Bitch (Lindy Booth), Dr. Gravity (Donald Faison), Battle Guy alias Marty yang karibnya sendiri (Clark Duke) dan Colonel Stars and Stripes (Jim Carrey) sebagai fasilitator dan pembina. Tentu saja mereka semua tidak bisa berkelahi, kecuali Sang Kolonel yang mantan mafia dan telah taubat itu. Kelompok ini bernama Justice Forever.

Sementara di belahan lain, Chris D’Amico alias The Motherfucker (Christopher Mintz-Plasse)—telah berganti dari Red Mist—berniat membalas Kick-Ass karena dulu ayahnya dilenyapkan dengan bazooka. Niat Chris tak main-main, ia mengumpulkan psikopat terlatih dan membentuk kelompok penjahat super. Motherfucker yang pandir tapi tajir itu merekrut The Tumor, Gengis Carnage, dan perempuan bertubuh tinggi besar yang pernah memakan teman satu selnya, Mother Russia. “We are The Toxic Mega-Cunts!”

Telinga Motherfucker semakin panas karena Justice Forever yang mempunyai Kick Ass, berhasil memberangus mafia perdagangan wanita—berkat kehebatan Sang Kolonel. Motherfucker dan staff pun merusuh dan merusuh, sembari terus mencari keberadaan Kick-Ass. Sementara Mindy yang terus merasa hal-hal keremajaan adalah omong kosong, dengan berat hati mengikuti permainan teman-temannya—termasuk memberikan mereka pelajaran—walaupun yang ada di pikirannya cuma satu: menggasak penjahat.

Pada tahun 2010, Kick-Ass lewat Matthew Vaughn dan Jane Goldman—dari  komik karya Mark Millar dan John Romita Jr.—memiliki ide cerdas meruntuhkan jarak antara fantasi dan kenyataan. Bagaimana jika superhero bertopeng yang tanpa skill itu tanpa rasa takut turun ke jalan? Mengenakan kostum dan mengumumkan dirinya kepada dunia sebagai "Kick-Ass", yang memiliki semangat kepahlawanan untuk membersihkan kota. Tentu saja kita semua tahu, ia akhirnya benar-benar remuk dihajar preman. Pencerah film itu kemudian adalah Hit-Girl, bocah perempuan kecil yang betul-betul memiliki kemampuan untuk menghajar siapapun.

Tiga tahun kemudian, Jeff Wadlow yang menulis dan mengarahkan sekuel ini, terkesan manut menyusuri trek tanpa pernah memberikan kejutan-kejutan tak terduga untuk keluar dari bayang-bayang film pertama. Ia lebih memilih untuk tidak berkonsentrasi pada karakter utamanya dan lebih memuat cerita baru. Lebih pada volumenya, bukan kedalamannya. Kemunculan tokoh Colonel Stars and Stripes yang diperankan oleh Jim Carrey sebetulnya menarik—itu pun sedikit—tetapi kita akan jauh lebih peduli pada bagaimana kemudian Mindy menghadapi dunianya yang baru, yang sayangnya hanya diceritakan ala kadarnya. Sementara Dave masih dalam substansi yang sama.

Walaupun urusan skenario sebetulnya tak terlalu mulus, tetapi penggemar Kick-Ass akan tetap merasakan asyiknya film ini. Tentu saja Chloë Grace Moretz yang menjadi bintang di sini. Karakternya yang dinamis, rentan, dan dipaksa sibuk mengurusi keusiannya. Ia tak memerlukan banyak usaha untuk menyita perhatian. Yang menghambatnya hanyalah penceritaan karakternya yang kurang dalam. Christopher Mintz-Plasse juga baik memainkan peran. Tingkahnya yang pandir, rasis, bossy, tetapi insecure karena baru saja kehilangan sosok-sosok yang dicintainya, membuat kita gemas sekaligus bersimpati dengannya. Perhatian juga mengarah pada Olga Kurkulina yang menjadi Mother Russia. Mantan binaragawan yang memerankan karakter bengis dan tanpa ampun, dan berpartisipasi dalam adegan perkelahian sengit satu lawan satu melawan Hit-Girl.

Bagi orang-orang yang sengaja menonton film ini hanya karena ingin menyaksikan Jim Carrey, jelas akan kecewa karena sedikitnya porsi tampil dirinya. Sebetulnya kemunculan Carrey sendiri di film ini juga banyak diperhatikan. Pada bulan Juni, Carrey berkicau di akun Twitter-nya, "I did Kickass a month b4 Sandy Hook and now in all good conscience I cannot support that level of violence ... my apologies to others involve [sic] with the film. I am not ashamed of it but recent events have caused a change in my heart." Kasus penembakan di Sekolah Dasar Sandy Hook yang menewaskan 28 orang di Newtown, Connecticut, Amerika Serikat, memang membuat Carrey sangat vokal pada masalah kontrol senjata dan kekerasan.

Kick Ass 2 juga akan membelah penonton: yang menyukainya dan yang membencinya—karena beberapa isu seperti kekerasan yang berlebihan/masalah moral. Tetapi selama kita betul-betul hanya mencari senang, kita akan bisa menikmati film ini dengan santai. Film ini tetap hiburan yang asyik daripada kebanyakan film-film superhero lainnya.








3,5/5

Jumat, 21 Januari 2011

Let Me In



  

Let Me In, adalah film hollywood yang disutradarai oleh Matt Reeves di tahun 2010, yang diangkat dari novel karya John Ajvide Lindqvist yang berjudul Let The Right One In. Namun sesungguhnya, novel tersebut sudah berhasil diterjemahkan lebih dahulu ke layar lebar oleh Thomas Alfredson di tahun 2008, lewat Let The Right One In, sama dengan judul novel John.

Film ini mengisahkan tentang seorang anak lelaki berusia 12 tahun bernama Owen (Kodi Smit-McPhee) di daerah Los Alamos, New Mexico, Amerika Serikat pada tahun 1983, yang kehidupan sehari-harinya hampir selalu disapa kepedihan. Perkawinan kedua orang tuanya yang berada diujung tanduk, dan perlakuan bully teman-temannya di sekolah, membuat dirinya terus menerus akrab dengan kemurungan. Ia lebih memilih menghabiskan waktu sendirian bersama permen kesukaannya.


Setidaknya, ada sedikit kemilau yang sayup-sayup berhasil ia lihat, ketika daerah tempat tinggalnya disinggahi oleh Abby (Chloë Grace Moretz) anak perempuan yang seumuran dengannya, dan ayahnya (Richard Jenkins). 
Ketika disuatu awal percakapan, Abby sempat mengutarakan bahwa mereka berdua tidak bisa menjalani suatu hubungan pertemanan, toh akhirnya mereka menjalin hubungan itu lebih dari apa yang mereka bisa bayangkan.

Owen, yang bercerita tentang perlakuan kasar teman-temannya di sekolah, dan Abby, yang selalu mendorong Owen agar ia harus sanggup melawannya. Tak hanya mengeluarkan unek-unek, Owen sebenarnya juga merasakan bahwa Abby sedikit berbeda (atau banyak) dengan anak perempuan seusianya. 

Di saat Los Alamos sedang dihujam salju yang sungguh membekukan, Abby justru tak pernah menggunakan alas kaki. Ia juga tak pernah keluar saat siang hari. Beruntungnya, Owen tak terlalu memikirkan hal tersebut, karena ia lebih fokus menikmati hubungan bersama orang yang sanggup menyematkan senyum di wajahnya itu.

Kedatangan keluarga Abby ini, selain menyenangkan, juga menimbulkan pertanyaan. Daerah  di sekitaran tempat Owen tinggal, jadi sering dimeriahkan oleh aksi pembunuhan. Termasuk seorang detektif (Elias Koteas) yang jadi sering mengunjungi daerah mereka.




Selain saya penasaran dengan bagaimana film ini akan menawarkan, kehadiran Chloë Grace Moretz juga makin mempertegas rasa keingintahuan saya, bagaimana ia akan melanjutkan trend positif setelah sebelumnya cemerlang memerankan Hitgirl dalam Kick-Ass di film sebelumnya.
Saya tambah bahagia, ketika ternyata Kodi Smit-McPhee mampu melakukan aktingnya yang sungguh menenggelamkan.

Selamat Matt Reeves! anda selamat!


9,5/10