Tampilkan postingan dengan label Emma Stone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emma Stone. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Gangster Squad (2013)





Di malam ganjil dengan lolongan anjing yang bersahut-sahutan, seorang pria bonyok dan tergeletak di rumput. Tangannya diikat dengan rantai yang dililitkan ke mobil yang siap menariknya ke arah timur, begitu juga kakinya, dengan mobil yang siap menariknya ke arah barat. Di ujung riwayatnya, pria itu sibuk menyumpahserapahi pimpinan gangster bengis yang ada di hadapannya. Beberapa detik kemudian, pedal diinjak dan tubuhnya terbelah. Ususnya terburai dan jadi makan malam anjing hutan. “Now you go back to Chicago, you tell them that Los Angeles belongs to Mickey Cohen,” ujar si bengis pada teman si usus terburai yang dibiarkan selamat itu.

Dengan jajaran artis seperti Sean Penn, Nick Nolte, Josh Brolin, Ryan Gosling dan Emma Stone, film bertema action-crime ini menjanjikan sesuatu yang layak dinanti setelah film-film bertema serupa seperti The Untouchables, L.A. Confidential, Scar Face atau American Gangster. Hadir line-up yang cukup berkilau, tantangannya memang ada pada naskah (adaptasi) yang digarap Will Beall dari buku Tales from the Gangster Squad gubahan Paul Lieberman. Tentunya penonton sudah cukup akrab dengan suburnya film bertema mafia/gangster dan Will Beall terbukti kurang dapat memberikan pembaruan dengan plot atau kejutan-kejutan yang ditawarkan pada film ini. Memang menjadi tantangan tersendiri bagi sineas untuk memeras otaknya dewasa ini jika ingin membuat sesuatu yang lain pada film mafia/gangster.

Gangster Squad menyajikan Mickey Cohen (Sean Penn) sebagai gangster besar sekaligus dealer heroin penguasa Los Angeles yang mempunyai banyak polisi dan hakim sebagai temannya. Untungnya di kota itu masih ada orang-orang berbudi baik. Adalah kepala polisi, Parker (Nick Nolte) yang menunjuk seorang sersan ambisius, mantan pejuang pada perang dunia kedua, John O’Mara (Josh Brolin), untuk membentuk tim khusus dalam rangka menghancurkan kerajaan Mickey Cohen. John kemudian memilah dan akhirnya menunjuk empat orang (plus satu orang di luar rencana) menjadi bagian dari timnya.

Lalu mereka mulai menyisir titik-titik praktik/daerah kekuasaan Cohen dan dengan kemunculan Grace (Emma Stone) sebagai pacar Cohen, pastilah penonton sudah tahu bahwa ia bakal kepincut dengan ketampanan Jerry Wooters (Ryan Gosling), salah satu anggota dari tim khusus penghancur Cohen.

Pada akhirnya berbagai hantaman daya kejut dan belokan di setiap pergantian babak terlalu mudah ditebak. Meski Sean Penn dan yang lain adalah artis dengan seni peran yang baik, plot film ini tak lagi mengejutkan. Beberapa karakter juga tak terlalu berkembang dalam penceritaannya sehingga terkesan hanya menjadi tempelan saja.

Namun demikian dalam segi teknis, Gangster Squad memuaskan dengan produksi yang rapi, seni peran yang apik, tata kostum yang oke dan setting yang cukup meyakinkan untuk tahun 40-an. Adegan pertempuran dengan peluru maupun tangan kosong pun cukup mengasyikkan dengan aksi-aksi yang banyak memuncratkan darah. Walau agak superficial pada naskahnya, Ruben Fleischer sang sutradara dengan baik dapat menghidupkan aura dari film 40-an dalam tone, karakter, dan narasi. 









3,5/5

Rabu, 13 April 2011

Easy A





Ingar bingar kehidupan remaja, tak membuat Olive Penderghast (Emma Stone) ingin muncul ke permukaan untuk tampil menunjukan keeksistensiannya di sekolah. Ia adalah anak yang tak banyak dikenal, dan hanya mempunyai sedikit kawan. Sampai  pada akhirnya ia berbohong kepada sahabatnya, Rhiannon (Aly Michalka), bahwa ia telah kehilangan keperawanannya. Dan entah sial atau mujur, hal ini terdengar oleh Marianne (Amanda Bynes)-seorang anak yang taat kepada tuhan, secara tak sengaja. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, seluruh murid-murid di sekolah tiba-tiba 'tahu' Olive, dan mencapnya sebagai perempuan 'nakal'.

Olive sesungguhnya adalah pribadi yang cerdas dan tak takut siapapun. Terbukti ketika ia dicela oleh seorang siswi di kelasnya, ia membalasnya dengan suatu perbuatan sarkas yang mengakibatkan ia harus bertemu dengan kepala sekolah. Dan disaat ia sedang menjalani hukuman, bertemulah ia dengan Brandon (Dan Byrd), siswa yang selalu dicemooh teman-temannya dengan sebutan gay. Ia memohon kepada Olive untuk  berpura-pura berhubungan seks dengan dirinya, agar status gay nya pudar dan bisa diakui 'kenormalannya'. Kerepotan berlanjut ketika siswa-siswa 'bermasalah' lainnya juga memohon pertolongan pada Olive dengan kasus yang berbeda-beda.

Bahkan saking terlanjurnya ia mendapat julukan perempuan murahan, sampai-sampai ia datang ke sekolah mengenakan pakaian seksi seperti layaknya perempuan murahan sungguhan. Awalnya ia menikmati hal-hal yang timbul dari ketidaksengajaan ini, tetapi sesungguhnya ia tak mau berlarut-larut dalam semua kebodohan dan segera menyusun siasat untuk memberitahukan bahwa dirinya bukanlah seperti apa yang dipikirkan oleh semua orang.




Walaupun menggunakan racikan khas komedi remaja pada umumnya, Easy A mampu menyusupi dan mempersembahkannya lebih dari itu. Segala hiruk pikuk remaja  termasuk seperti persahabatan dan cinta, diolah dengan satir-satir yang cerdas dan segar. Will Gluck pun pintar menyusupi Easy A dengan beberapa adegan film lawas dari The Scarlett Letter (1995), saat Olive sedang mempelajari sesuatu seperti apa yang sedang ia alami. Emma Stone sendiri juga dengan pintar tidak menyia-nyiakan kepercayaan untuk mengeluarkan segala kemampuan terbaiknya, setelah di Superbad (2007), The House Bunny (2008) dan Zombieland (2009) hanya mendapatkan peran pendukung. 
Selain diisi oleh bakat-bakat muda, Easy A juga diisi oleh nama berpengalaman seperti Stanley Tucci dan Patricia Clarkson, yang cukup sukses berperan sebagai orang tua  Olive yang paham dan mengasyikkan. Thomas Haden Church dan Lisa Kudrow pun juga jauh dari kata jelek.


Easy A menjadi berbeda dari film bergenre sejenis ketika racikan yang dipakai bertambah lezat karena galak  akan bumbu dan cara memasaknya yang cukup unik. Sosok Olive yang diperankan oleh Emma juga mengalir begitu saja. Ia mengajarkan anak-anak muda bahwa menghadapi permasalahan lumrah remaja seperti ini, haruslah santai namun tetap pintar dan penuh perhitungan, dan Will Gluck tahu akan itu. 


9,0/10