Tampilkan postingan dengan label Kimo Stamboel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimo Stamboel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2016

Headshot (2016)




Tersebutlah seorang pria bernama Ishmael yang terbaring di ranjang sebuah rumah sakit. Nama 'Ishmael' diberikan oleh Ailin (Chelsea Islan), seorang dokter yang tengah bertugas di tempat itu yang setia menunggui pria koma tersebut, karena Ishmael tanpa asal-usul—ia ditemukan terdampar di sebuah pantai oleh seorang nelayan. Ishmael (Iko Uwais), yang akhirnya sadar setelah dua bulan, tak mampu mengingat siapa dirinya. Pria berperut sixpack itu terkadang hanya merasakan potongan-potongan masa lampau yang berkelebat dalam kepalanya.

Ailin yang cantik, baik hatinya, rambut kuncir kuda, pandai merawat sekaligus penikmat karya Herman Melville, kompletlah pokoknya, kemudian mengajak Ishmael pergi ke Jakarta agar peluru yang masih tersangkut di tengkorak Ishmael bisa diambil, juga karena masa Ailin bertugas di tempat itu telah selesai. Tetapi Ishmael menolak. Lho kenapa? Oh, Ishmael ingin lebih dulu mengembalikan ingatannya, mencari tahu jati dirinya.

Duet sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers) kali ini mencoba subgenre action martial arts setelah sebelumnya sukses pada genre thriller yang mengangkat nama mereka. Aksi menegangkan mulai terjadi ketika Ishmael dicari-cari sekawanan bandit. Para bandit kemudian menculik Ailin karena ia dianggap tahu hal-hal mengenai Ishmael yang akan coba dibunuh sekaligus memancingnya.

Apa hubungannya? Ternyata dahulu Ishmael merupakan salah satu awak bandit—Ishmael bernama asli Abdi—yang kemudian insaf dan membelot. Bos besar, Lee (Sunny Pang), tentu saja murka, ditambah karena ia sempat dipenjara gara-gara ulah Ishmael. Lee ini penjahat yang misterius sekaligus disegani dan mempunyai reputasi di kalangannya. Ia menculik anak-anak untuk dibesarkan menjadi penjahat beringas, jago tengkar, dan loyal. Lee mengganggap dirinya adalah ayah dari mereka. Maka dari itu Ishmael harus disingkirkan kali ini karena pada percobaan pertama.. ada sebuah insiden.

Kita tahu memuncrat-muncratkan darah adalah keahlian Mo Brothers. Tetapi ada hal-hal yang disayangkan pada Headshot. Perbedaan cara menikmati memang, tetapi banyak momen di mana sulit untuk percaya pada beberapa bagian. Walau hal seperti ini biasanya cukup dimaklumi pada film martial arts, tetapi film dengan berliter-liter darah juga butuh tensi, dan hal ini yang terasa kurang pada Headshot. Mau tak mau walau tak adil, penonton akan membandingkan Headshot dengan The Raid dan membuat film garapan Gareth Evans itu terlihat seperti masterpiece. Headshot amat hemat plot dan karakter. Penceritaan hubungan antara Ishmael dan Ailin juga kurang tajam dan kurang berwarna. Yang paling membuat sedih adalah karakter Rika (Julie Estelle) yang betul-betul mendapat porsi sangat terbatas dan karakternya tak berkembang, padahal ini adalah salah satu yang paling ditunggu penonton. Di film, kita tahu bahwa pada masa lampau Ishmael/Abdi punya hubungan yang dekat bersama Rika—juga Ishmael dengan bandit yang lain—tetapi hanya sebatas itu dan sulit untuk membuat penonton bersimpati. Ishmael dan mantan rekan-rekannya juga kurang berdialektika ihwal jati diri Ishmael. 

Pada akhirnya film ini terkesan hanya sebagai rangkaian aksi hajar-menghajar dan tembak-menembak yang sayangnya, juga tak ada yang betul-betul monumental, padahal mereka punya Iko Uwais yang sangat punya kapasitas tetapi terasa kurang dimanfaatkan. Jika saja Mo Brothers lebih bisa memberikan napas pada karakter-karakternya dan memaksimalkan potensi hubungan mereka, penonton akan lebih merasakan emosi dan Headshot akan menjadi sajian yang kian.

Namun Headshot punya tata visual yang berkelas. Sunny Pang yang memerankan Lee juga bersinar. Beberapa selipan komedi dalam film ini pun sungguh berhasil. Tentu saja Headshot adalah sebuah usaha yang amat patut diapresiasi dan film yang sangat layak tonton.





3/5

Jumat, 07 Februari 2014

Killers (2014)






Di salah satu lipatan kota Tokyo, terseliplah sebuah dunia muram milik Nomura (Kazuki Kitamura). Lama hidup sebatang kara, eksekutif tampan mandiri dan selalu tampil perlente itu memiliki masalah kejiwaan berat. Ia kerap membawa perempuan cantik ke rumah dan seperti biasa, ia akan menggetok kepala mereka dengan martil atau membelah tubuh mereka dengan kapak setelah sebelumnya saling terkam di ranjang. Prosesi tersebut ia dokumentasikan dan kemudian ia upload ke dunia maya.

Sementara nun jauh di Jakarta, Bayu (Oka Antara), seorang jurnalis ambisisus tengah goncang karier dan rumah tangganya lantaran obsesinya untuk mengungkap kasus seorang politisi bernama Dharma (Ray Sahetapy). Di tengah keruwetan itu, belakangan kita ketahui ia sering menonton video-video Nomura dan berkat sebuah malam yang sinting, akhirnya Bayu melakukan hal yang sama seperti Nomura. Tak dinyana, ternyata Nomura menyukai karya Bayu dan akhirnya mereka berinteraksi via internet.

Kolaborasi dua negara (Indonesia dan Jepang) ini adalah dalam rangka merayakan seratus tahun Nikkatsu Corporation, salah satu perusahaan film tertua di Jepang yang mencoba melaksanakan international collaboration production. Ide cerita asli datang dari Takuji Ushiyama yang kemudian diubah dan digodok oleh Timo. Kali ini Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timo Tjahjanto) bercerita tentang kisah psikopat yang berbeda. Dibandingkan dengan film pendahulunya, Rumah Dara (Macabre) yang mendapatkan berbagai tanggapan positif dari banyak pihak, Killers adalah sebuah lompatan.

Sebuah diorama yang mungkin tak terlalu akrab dengan keseharian kita yang menyentak; bahwa manusia memiliki sisi gelap, samar, ataupun sunyi. Nomura adalah perwakilan mereka yang telah lama hidup dalam kesepian. Sedari kecil ditinggal orangtua dan—ini yang paling menyesakkannya—ditinggal kakak perempuan yang amat dicintainya hingga ia menyimpan jasad kakaknya itu di sebuah kamar khusus di rumahnya. “Kesepian akan menyebabkan luka dalam.” Sementara Bayu adalah perwakilan yang tengah hidup dalam pergolakan hebat.

Kedua pria ini adalah orang yang sama saja seperti orang lain: mempunyai masalah dan sisi lain dalam hidup. Eksplorasi kekerasan mindset adalah yang paling bersinar dari Killers. Pendekatan-pendekatan psikologis yang lebih mengerikan daripada rangkaian kucuran darah. Kita diajak menelusuri pikiran Nomura yang gelap, yang menganggap lebih baik penderitaan dihilangkan dengan kematian. Hubungan online, pencarian jawaban dan perjuangan keduanya untuk mengeksplor dan menggali rahasia sisi tergelap mereka adalah bagian yang amat menarik untuk diikuti. Jika Nomura adalah sesosok monster yang mencari jawaban apakah betul ia memang sosok seperti itu, Bayu adalah sosok yang berjuang agar ia tidak terjerembap pada sisi tergelapnya. Tetapi dalam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, ada getir yang terpaksa ditelan. Tak hanya meneror lewat pikiran, Mo Brothers juga menyisipkan humor gelap, seperti pada adegan pelacur yang digebuki di bagasi mobil dan adegan Bayu yang berimajinasi membantai keluarga mertuanya setelah dikompori Nomura untuk mencari korban selanjutnya.

Kazuki Kitamura menampilkan seni peran berkelas: bukan hanya sebagai pembunuh yang kenes, flamboyan, dan obsesif terhadap kepuasan membunuh, tetapi juga berhasil memancarkan aura bahwa ia punya masa lalu yang kelam. Oka Antara juga cukup berhasil sebagai orang yang terguncang sekaligus ambisius. Tak hanya naskah, pengarahan, dan tata produksinya yang rapi, scoring-nya pun berhasil memanjakan penonton agar bisa melahap film ini dengan nikmat.

Bagian akhir film adalah konfirmasi: manusia bisa konsisten sakit.


 








4/5


Rabu, 09 Februari 2011

Takut (Faces of Fear)





Beberapa sutradara ternama Indonesia ambil bagian dalam Takut (Faces of Fear), film kompilasi dari 6 cerita horor/thriller. Beliau-beliau tersebut adalah; Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Radhitya Sidharta, dan The Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothi Tjahjanto).

Show Unit, adalah cerita pertama yang ditampilkan dalam film ini. Bercerita tentang sepasang kekasih, Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty), yang menghadiri pesta di tempat tinggal tetangganya. Tiba-tiba Dinna melihat lampu rumahnya menyala, dan Bayu segera pergi ke sana untuk mengecek apakah ada perampok yang menyatroni rumah mereka. Berbekal dengan sebilah pisau di tangan, Bayu melakukan aksi yang tak pernah direncanakan.


Titisan Naya, menceritakan tentang gadis muda modern, Naya (Dina Olivia) dan ibunya, yang pergi menghadiri upacara ritual cuci keris di rumah saudaranya. Naya bertemu dengan sepupunya (Junior Liem), yang kini sudah tumbuh dewasa dan menggairahkan dirinya. Ritual keramat yang diacuhkan dengan kurang pantas oleh Naya, membuat ia harus menerima konsekuensinya.


Peeper, menceritakan tentang seorang cleaning service bernama Bambang (Epy Kusnandar), yang mempunyai kebiasaan buruk yaitu mengintip. Dengan kesukaannya melihat kemolekan tubuh perempuan, ia menghadiri pertunjukan wayang orang yang dimainkan oleh seorang penari wanita (Wiwied Gunawan), dari tiket gratis pemberian seseorang. Hingga akhirnya, Bambang pun harus membayar kebiasaannya itu.


The List, menceritakan perempuan bernama Sarah (Shanty), yang masih sakit hati dengan mantan kekasihnya, Andre (Fauzi Baadila), dengan mendatangi dukun santet kenamaan untuk mengerjainya. Sarah pun dengan cekatan menyiapkan daftar teluh apa saja yang harus dikirim oleh sang dukun untuk beraksi. Sampai akhirnya ia tahu, bahwa balas dendam bukan cara satu-satunya.


The Rescue, menceritakan tentang kota Jakarta yang terjangkit virus akibat sebuah ledakan laboratorium biologi, yang mengubah masyarakat yang terinfeksi menjadi makhluk ganas tak terhentikan. Tim Gegana berupaya melindungi dua orang (Sogi Indraduaja & Eva Celia Lesmana) yang berhasil selamat dari virus, dan berupaya melindungi diri mereka sendiri.


Dara, berkisah tentang seorang perempuan bernama Dara (Shareefa Daanish), yang merupakan pemilik sekaligus head chef restoran yang ia kelola. Parasnya yang cantik dan mempesona, membuat ia dengan mudah mengajak para pengunjung pria untuk mendapatkan jamuan "Spesial" di rumah Dara. Jamuan yang benar-benar tak masuk akal.


Dari enam cerita yang disuguhkan, yang cukup mengambil hati saya adalah cerita Dara. Untuk 5 cerita lainnya, masih adanya ketidakoriginalan dan kurangnya kemampuan eksekusi cerita dengan lebih mantap, membuat adegan-adegan mereka seperti lewat begitu saja. 
Contohnya, ketika Show Unit meniru Sin City dan Hitchcock. Lalu adegan tarian pada Titisan Naya, mengingatkan saya pada The Victim. Atau Bangkok Haunted dalam Peeper.

Sebenarnya saya sangat berharap pada The Rescue (karena ini genre film favorit saya), film zombie lokal yang tiba-tiba muncul di tengah derasnya film horor esek-esek murahan. Namun lagi-lagi, cerita yang kurang kuat dan eksekusi yang belum apik membuat film ini jadi biasa saja.

Mungkin, Takut harus berterima kasih pada Dara, yang menurut saya menyelamatkan film ini dari kebiasaan. Shareefa Daanish yang begitu mencekam dengan keanggunan yang ia miliki, membuat film ini setidaknya menyematkan senyum di wajah saya pada akhirnya.



7,6/10