Rabu, 13 April 2011

Easy A





Ingar bingar kehidupan remaja, tak membuat Olive Penderghast (Emma Stone) ingin muncul ke permukaan untuk tampil menunjukan keeksistensiannya di sekolah. Ia adalah anak yang tak banyak dikenal, dan hanya mempunyai sedikit kawan. Sampai  pada akhirnya ia berbohong kepada sahabatnya, Rhiannon (Aly Michalka), bahwa ia telah kehilangan keperawanannya. Dan entah sial atau mujur, hal ini terdengar oleh Marianne (Amanda Bynes)-seorang anak yang taat kepada tuhan, secara tak sengaja. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, seluruh murid-murid di sekolah tiba-tiba 'tahu' Olive, dan mencapnya sebagai perempuan 'nakal'.

Olive sesungguhnya adalah pribadi yang cerdas dan tak takut siapapun. Terbukti ketika ia dicela oleh seorang siswi di kelasnya, ia membalasnya dengan suatu perbuatan sarkas yang mengakibatkan ia harus bertemu dengan kepala sekolah. Dan disaat ia sedang menjalani hukuman, bertemulah ia dengan Brandon (Dan Byrd), siswa yang selalu dicemooh teman-temannya dengan sebutan gay. Ia memohon kepada Olive untuk  berpura-pura berhubungan seks dengan dirinya, agar status gay nya pudar dan bisa diakui 'kenormalannya'. Kerepotan berlanjut ketika siswa-siswa 'bermasalah' lainnya juga memohon pertolongan pada Olive dengan kasus yang berbeda-beda.

Bahkan saking terlanjurnya ia mendapat julukan perempuan murahan, sampai-sampai ia datang ke sekolah mengenakan pakaian seksi seperti layaknya perempuan murahan sungguhan. Awalnya ia menikmati hal-hal yang timbul dari ketidaksengajaan ini, tetapi sesungguhnya ia tak mau berlarut-larut dalam semua kebodohan dan segera menyusun siasat untuk memberitahukan bahwa dirinya bukanlah seperti apa yang dipikirkan oleh semua orang.




Walaupun menggunakan racikan khas komedi remaja pada umumnya, Easy A mampu menyusupi dan mempersembahkannya lebih dari itu. Segala hiruk pikuk remaja  termasuk seperti persahabatan dan cinta, diolah dengan satir-satir yang cerdas dan segar. Will Gluck pun pintar menyusupi Easy A dengan beberapa adegan film lawas dari The Scarlett Letter (1995), saat Olive sedang mempelajari sesuatu seperti apa yang sedang ia alami. Emma Stone sendiri juga dengan pintar tidak menyia-nyiakan kepercayaan untuk mengeluarkan segala kemampuan terbaiknya, setelah di Superbad (2007), The House Bunny (2008) dan Zombieland (2009) hanya mendapatkan peran pendukung. 
Selain diisi oleh bakat-bakat muda, Easy A juga diisi oleh nama berpengalaman seperti Stanley Tucci dan Patricia Clarkson, yang cukup sukses berperan sebagai orang tua  Olive yang paham dan mengasyikkan. Thomas Haden Church dan Lisa Kudrow pun juga jauh dari kata jelek.


Easy A menjadi berbeda dari film bergenre sejenis ketika racikan yang dipakai bertambah lezat karena galak  akan bumbu dan cara memasaknya yang cukup unik. Sosok Olive yang diperankan oleh Emma juga mengalir begitu saja. Ia mengajarkan anak-anak muda bahwa menghadapi permasalahan lumrah remaja seperti ini, haruslah santai namun tetap pintar dan penuh perhitungan, dan Will Gluck tahu akan itu. 


9,0/10

?





Film ini menyuguhkan kisah tiga kehidupan keluarga yang berbeda kepercayaan, yang menjalani kehidupan dalam satu kawasan yang sama. Yang pertama adalah kisah keluarga Soleh (Reza Rahadian)-seorang pengangguran, yang mempunyai istri bernama Menuk (Revalina S. Temat). Adiknya yang masih mengenyam bangku pendidikan tinggal bersamanya. Ia juga mempunyai satu anak yang masih kecil, dan memiliki istri yang bekerja. Hal ini tentu membuat dirinya risih. Bukan risih dalam artian negatif, tetapi statusnya yang pengangguran membuat ia kadang mempunyai emosi yang berlebih ketika ia berpikir dirinya belum bisa membuktikan apa-apa.

Yang kedua adalah keluarga Tan Kat Sun (Hengky Solaiman), yang mempunyai istri Lim Giok Lie (Edmay) dan anak bernama Hendra (Rio Dewanto). Tan Kat Sun adalah penganut agama budha yang taat, dan mempunyai restoran masakan khas cina yang cukup digandrungi warga sekitar. Tan Kat Sun mempunyai toleransi beragama yang tinggi. Menuk (seorang  Muslimah taat) yang menjadi pelayan di restorannya pun merasakan hal itu. Tetapi sayangnya, prinsip hidup Hendra yang kadang kerap bersebrangan dengan ayahnya, membuat kehidupan keluarga mereka kadang begitu dingin. Apalagi dulu Hendra sempat mempunyai kisah manis yang berujung pahit bersama Menuk.

Kemudian ada Rika (Endhita) seorang janda yang baru saja berpindah agama, dan mempunyai anak yang rajin mengaji bernama Abi (Baim). Masyarakat sekitar sulit menerima hal itu, termasuk pada awalnya, Abi, juga belum bisa menerima kepindahan kepercayaan yang dilakukan oleh ibunya. Tetapi Surya (Agus Kuncoro Adi)-seorang aktor figuran serabutan yang ingin mewujudkan mimpinya, malah memuji keberanian Rika melakukan keberanian besar dalam hidupnya, dan seiring berjalannya waktu semakin menyukai Rika.




Hanung Bramantyo yang dalam perjalanan karirnya cukup sering menahkodai film-film bertema spiritual, kali ini mencoba membuat tema spiritual yang universal (tidak dalam cara pandang Islam saja), namun tetap tidak meninggalkan ciri khasnya. Suguhannya pun tidak terkesan menggurui, dan membiarkan penonton menerka sendiri apa yang sebenarnya mereka cerna dari sajian yang dipersembahkan. Kualitas akting para pemain di film ini pun cukup mumpuni.  Revalina tampil cukup ciamik. Lagi-lagi Reza Rahadian memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Agus Kuncoro Adi pun sepertinya akan mendapatkan tempat tersendiri di hati penontonnya. 

Walaupun sama-sama diilhami dari kisah nyata dengan Sang Pencerah (2010), ? mungkin tidak melampaui dengan apa yang telah dilakukan oleh film pendahulunya tersebut. ? tidak memberikan sesuatu yang lebih segar daripada Sang Pencerah (film lokal terbaik 2010 menurut saya).


Hanung sepertinya harus lebih teliti lagi memerhatikan detil-detil yang bisa mengganggu niatnya menyampaikan pesan kepada masyarakat dan tidak membuat ketersinggungan. Seperti contohnya, film ini sempat diprotes oleh sekretaris satkorcab banser kota Surabaya, karena tidak setuju dengan sifat Soleh dalam film ini yang emosian. Begitu juga dalam Sang Pencerah, yang mengusung tokoh Muhammadiyah, Hanung juga berusaha memunculkan orang NU di dalamnya, meski lagi-lagi tidak sesuai kepribadian orang Nahdliyin.  
Namun terlepas dari semua itu, ? tampil cukup memuaskan. Maksud dan tujuan Hanung yang baru,  tim yang hebat dan kemampuan akting para pemainnya, membuat ? tetap patut diapresiasi tinggi.


9,0/10

Jumat, 08 April 2011

Machete




Machete Cortez (Danny Trejo), adalah seorang polisi Meksiko yang dikhianati oleh atasannya sendiri lantaran tidak mau bekerja sama dengan Rogelio Torrez (Steven Seagal)-seorang bandar narkoba besar di negaranya. Keluarganya dibunuh, dan ia melarikan diri ke Amerika Serikat.

Otomatis ia kini menjadi imigran gelap, yang sekarang bekerja menjadi buruh untuk mencukupi kehidupannya. Disaat ia sedang menjalani kesehariannya, datanglah Michael Booth (Jeff Fahey), menawarinya pekerjaan untuk membunuh Senator McLaughlin (Robert De Niro) dengan imbalan yang menggiurkan. Ia menerimanya, walau sesungguhnya orientasinya bukan karena uang. Lagi-lagi hal ini adalah jebakan. Dirinya hanya dijadikan alat pengalihan isu penembakan Senator, yang ternyata penembak 'aslinya' memang sudah disiapkan.




Machete adalah orang yang 'susah mati'. Berkali-kali ia diburu namun selalu saja sanggup meloloskan diri. Ia pun menghadapi lawan-lawannya dengan cara yang amat luar biasa. Potongan kepala bergeletakan begitu saja, darah yang mengalir bagaikan air bah. Apalagi senjata favorit seorang Estana Hievara yang lebih dikenal dengan nama Machete kalau bukan, Machete (Pisau belati besar yang sanggup membelah leher dengan sekali sabetan).

Mengetahui bagaimana keadaan politik kotor yang sebenarnya, membuat nurani Sartana (Jessica Alba) terketuk. Ia yang seorang polisi perbatasan Amerika Serikat itu, berbalik mendukung Machete, bersama-sama dengan Luz (Michelle Rodriguez). April booth (Lindsay Lohan), anak dari Michael Booth, malah ikut-ikutan bergabung bersama komplotan Machette, namun dengan misi yang berbeda.





Walaupun bukan termasuk film yang rumit dan sesungguhnya kedalaman cerita masih bisa digali lebih dalam lagi, Machete sangat asyik untuk diikuti. Tubuh kekar dan wajah beringas Danny Trejo pun sepertinya adalah karakter yang paling pas untuk memerankan Machete. Perannya sebagai seorang 'ksatria' yang dingin, namun menginspirasi pengikutnya juga sangat baik. Jeff Fahey memerankan tokohnya juga dengan cukup apik disini, walaupun yang lainnya juga lumayan. Tetapi ia terlihat lebih menonjol dari pemain yang lain. Robert Rodriguez, sang sutradara, bisa dikatakan cukup sukses membuat film yang dipenuhi dengan kekerasan dan adegan syur ini. Ada beberapa adegan juga yang membuat saya tertawa terpingkal. Machete adalah tontonan yang cukup seru disaksikan pada waktu luang, dan bisa ditonton sekali lagi bila kurang.


9,1/10

Kamis, 07 April 2011

Love & Other Drugs





Sebuah romantic comedy yang mengagumkan. Lebih dari itu, film ini menyuguhkan sebuah perjalanan cinta yang menyentuh dan romantis. Perjalanan cinta yang mungkin lumrah dalam kehidupan, namun amat terasa keindahannya. Edward Zwick mampu melakukannya dengan sangat baik.

Film ini diadaptasi dari novel, Hard Sell: The Evolution of a Viagra Salesman, karya Jamie Reidy. Edward Zwick yang karya-karyanya fenomenal dan berat seperti The Last Samurai (2003) dan Blood Diamond (2006), kali ini mencoba usaha keduanya membuat film komedi romantis, setelah About Last Night (1986). Hasilnya, tetap saja luar biasa.

Film ini dimulai ketika Jamie Randall (Jake Gyllenhaal), menjadi karyawan di sebuah toko elektronik. Perangainya yang atraktif dan wajahnya yang tampan membuat ia mudah disukai, termasuk ketika ia disukai oleh pacar sang pemilik toko. Jamie kemudian membuat suatu kesalahan dan akhirnya dipecat.
Tak perlu berlama-lama menganggur, ia kemudian segera mendapatkan pekerjaan menjadi salesman di perusahaan farmasi terkenal, Pfizer, dari saudaranya, Josh Randall (Josh Gad).

Disaat ia sibuk melancarkan usahanya dengan menyambangi berbagai rumah sakit untuk menawarkan produk ke banyak dokter, disitulah ia bertemu Maggie Murdock (Anne Hathaway)-seorang penderita Parkinson stadium satu yang cantik, dan amat menarik perhatian Jamie.
Namun sayangnya, Maggie tak seperti perempuan lain kebanyakan. Jamie yang kambuh penyakit 'playboy'nya tak sanggup dengan mudah menaklukkan Maggie, walau akhirnya berhasil.



Maggie adalah tetap sesuatu yang berbeda, bagi Jamie. Seiring dengan berjalannya waktu, pelan-pelan seorang Maggie, sungguhan membuat Jamie jatuh hati. 
Tetapi kemudian muncul berbagai permasalahan. Jamie yang kini perlahan sukses mempromosikan produk baru Pfizer, yaitu viagra, agak menjadi sedikit lebih sibuk. Belum lagi mengenai penyakit yang diderita Maggie. Pikiran Maggie kembali dipenuhi dengan segala ketakutan yang memang sejak awal ditakutinya.

Sangat menyenangkan menyaksikan sajian ini. Bukan hanya karena berbeda dari komedi romantis lainnya, namun juga karena departemen akting yang dilakoni para pemainnya, seperti yang dibawakan oleh Jake Gyllenhaal dan Anne Hathaway sangat amat begitu apik, dan pas. Jake yang tak berlebihan dalam menaburi sedikit sisi lucu, begitu juga dengan Anne yang tak terlalu sedih menjalankan kesehariannya, walaupun sebenarnya di dalamnya kita tahu ada kepiluan yang tak bisa ditutupi. Edward Zwick mampu mengarahkan itu kedalam porsi yang asyik.


Jujur, bahkan saya lebih menyukai chemistry dari Jake dan Anne disini, ketimbang Jim Carrey dan Kate Winslet dalam Etermal Sunshine of the Spotless Mind (2004) atau dengan pasangan manapun.
Pada akhirnya, Love & Other Drugs menjadi film komedi romantis yang 'beda level' dari film komedi romantis lainnya, dan semakin membuat saya semakin menyukai dan menanti karya-karya dari Edward Zwick selanjutnya.


9,7/10

Minggu, 27 Februari 2011

Winners and Nominees for the 83rd Academy Awards








Actor in a Leading Role

  • Javier Bardem in “Biutiful”
  • Jeff Bridges in “True Grit”
  • Jesse Eisenberg in “The Social Network”
  • Colin Firth in “The King's Speech” (Winner)
  • James Franco in “127 Hours”

 

Actor in a Supporting Role

  • Christian Bale in “The Fighter” (Winner)
  • John Hawkes in “Winter's Bone”
  • Jeremy Renner in “The Town”
  • Mark Ruffalo in “The Kids Are All Right”
  • Geoffrey Rush in “The King's Speech”

 

Actress in a Leading Role

  • Annette Bening in “The Kids Are All Right”
  • Nicole Kidman in “Rabbit Hole”
  • Jennifer Lawrence in “Winter's Bone”
  • Natalie Portman in “Black Swan” (Winner)
  • Michelle Williams in “Blue Valentine”

 

Actress in a Supporting Role

  • Amy Adams in “The Fighter”
  • Helena Bonham Carter in “The King's Speech”
  • Melissa Leo in “The Fighter” (Winner)
  • Hailee Steinfeld in “True Grit”
  • Jacki Weaver in “Animal Kingdom”

 

Animated Feature Film

  • “How to Train Your Dragon” Chris Sanders and Dean DeBlois
  • “The Illusionist” Sylvain Chomet
  • “Toy Story 3” Lee Unkrich (Winner)

 

Art Direction

  • “Alice in Wonderland”
    Production Design: Robert Stromberg; Set Decoration: Karen O'Hara (Winner)
  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1”
    Production Design: Stuart Craig; Set Decoration: Stephenie McMillan
  • “Inception”
    Production Design: Guy Hendrix Dyas; Set Decoration: Larry Dias and Doug Mowat
  • “The King's Speech”
    Production Design: Eve Stewart; Set Decoration: Judy Farr
  • “True Grit”
    Production Design: Jess Gonchor; Set Decoration: Nancy Haigh

 

Cinematography

  • “Black Swan” Matthew Libatique
  • “Inception” Wally Pfister (Winner)
  • “The King's Speech” Danny Cohen
  • “The Social Network” Jeff Cronenweth
  • “True Grit” Roger Deakins

 

Costume Design

  • “Alice in Wonderland” Colleen Atwood (Winner)
  • “I Am Love” Antonella Cannarozzi
  • “The King's Speech” Jenny Beavan
  • “The Tempest” Sandy Powell
  • “True Grit” Mary Zophres

 

Directing

  • “Black Swan” Darren Aronofsky
  • “The Fighter” David O. Russell
  • “The King's Speech” Tom Hooper (Winner)
  • “The Social Network” David Fincher
  • “True Grit” Joel Coen and Ethan Coen

 

Documentary (Feature)

  • “Exit through the Gift Shop” Banksy and Jaimie D'Cruz
  • “Gasland” Josh Fox and Trish Adlesic
  • “Inside Job” Charles Ferguson and Audrey Marrs (Winner)
  • “Restrepo” Tim Hetherington and Sebastian Junger
  • “Waste Land” Lucy Walker and Angus Aynsley

 

Documentary (Short Subject)

  • “Killing in the Name” Jed Rothstein
  • “Poster Girl” Sara Nesson and Mitchell W. Block
  • “Strangers No More” Karen Goodman and Kirk Simon (Winner)
  • “Sun Come Up” Jennifer Redfearn and Tim Metzger
  • “The Warriors of Qiugang” Ruby Yang and Thomas Lennon

 

Film Editing

  • “Black Swan” Andrew Weisblum
  • “The Fighter” Pamela Martin
  • “The King's Speech” Tariq Anwar
  • “127 Hours” Jon Harris
  • “The Social Network” Angus Wall and Kirk Baxter (Winner)

 

Foreign Language Film

  • “Biutiful” Mexico
  • “Dogtooth” Greece
  • “In a Better World” Denmark (Winner)
  • “Incendies” Canada
  • “Outside the Law (Hors-la-loi)” Algeria

 

Makeup

  • “Barney's Version” Adrien Morot
  • “The Way Back” Edouard F. Henriques, Gregory Funk and Yolanda Toussieng
  • “The Wolfman” Rick Baker and Dave Elsey (Winner)

 

Music (Original Score)

  • “How to Train Your Dragon” John Powell
  • “Inception” Hans Zimmer
  • “The King's Speech” Alexandre Desplat
  • “127 Hours” A.R. Rahman
  • “The Social Network” Trent Reznor and Atticus Ross (Winner)

 

Music (Original Song)

  • “Coming Home” from “Country Strong” Music and Lyric by Tom Douglas, Troy Verges and Hillary Lindsey
  • “I See the Light” from “Tangled” Music by Alan Menken Lyric by Glenn Slater
  • “If I Rise” from “127 Hours” Music by A.R. Rahman Lyric by Dido and Rollo Armstrong
  • “We Belong Together” from “Toy Story 3" Music and Lyric by Randy Newman (Winner)

 

Best Picture

  • “Black Swan” Mike Medavoy, Brian Oliver and Scott Franklin, Producers
  • “The Fighter” David Hoberman, Todd Lieberman and Mark Wahlberg, Producers
  • “Inception” Emma Thomas and Christopher Nolan, Producers
  • “The Kids Are All Right” Gary Gilbert, Jeffrey Levy-Hinte and Celine Rattray, Producers
  • “The King's Speech” Iain Canning, Emile Sherman and Gareth Unwin, Producers (Winner)
  • “127 Hours” Christian Colson, Danny Boyle and John Smithson, Producers
  • “The Social Network” Scott Rudin, Dana Brunetti, Michael De Luca and Ceán Chaffin, Producers
  • “Toy Story 3” Darla K. Anderson, Producer
  • “True Grit” Scott Rudin, Ethan Coen and Joel Coen, Producers
  • “Winter's Bone" Anne Rosellini and Alix Madigan-Yorkin, Producers

 

Short Film (Animated)

  • “Day & Night” Teddy Newton
  • “The Gruffalo” Jakob Schuh and Max Lang
  • “Let's Pollute” Geefwee Boedoe
  • “The Lost Thing” Shaun Tan and Andrew Ruhemann (Winner)
  • “Madagascar, carnet de voyage (Madagascar, a Journey Diary)” Bastien Dubois

 

Short Film (Live Action)

  • “The Confession” Tanel Toom
  • “The Crush” Michael Creagh
  • “God of Love” Luke Matheny (Winner)
  • “Na Wewe” Ivan Goldschmidt
  • “Wish 143” Ian Barnes and Samantha Waite

 

Sound Editing

  • “Inception” Richard King (Winner)
  • “Toy Story 3” Tom Myers and Michael Silvers
  • “Tron: Legacy” Gwendolyn Yates Whittle and Addison Teague
  • “True Grit” Skip Lievsay and Craig Berkey
  • “Unstoppable” Mark P. Stoeckinger

 

Sound Mixing

  • “Inception” Lora Hirschberg, Gary A. Rizzo and Ed Novick (Winner)
  • “The King's Speech” Paul Hamblin, Martin Jensen and John Midgley
  • “Salt” Jeffrey J. Haboush, Greg P. Russell, Scott Millan and William Sarokin
  • “The Social Network” Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick and Mark Weingarten
  • “True Grit” Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff and Peter F. Kurland

 

Visual Effects

  • “Alice in Wonderland” Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas and Sean Phillips
  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1” Tim Burke, John Richardson, Christian Manz and Nicolas Aithadi
  • “Hereafter” Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky and Joe Farrell
  • “Inception” Paul Franklin, Chris Corbould, Andrew Lockley and Peter Bebb (Winner)
  • “Iron Man 2” Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright and Daniel Sudick

 

Writing (Adapted Screenplay)

  • “127 Hours” Screenplay by Danny Boyle & Simon Beaufoy
  • “The Social Network” Screenplay by Aaron Sorkin (Winner)
  • “Toy Story 3” Screenplay by Michael Arndt; Story by John Lasseter, Andrew Stanton and Lee Unkrich
  • “True Grit” Written for the screen by Joel Coen & Ethan Coen
  • “Winter's Bone” Adapted for the screen by Debra Granik & Anne Rosellini

 

Writing (Original Screenplay)

  • “Another Year” Written by Mike Leigh
  • “The Fighter” Screenplay by Scott Silver and Paul Tamasy & Eric Johnson;
    Story by Keith Dorrington & Paul Tamasy & Eric Johnson
  • “Inception” Written by Christopher Nolan
  • “The Kids Are All Right” Written by Lisa Cholodenko & Stuart Blumberg
  • “The King's Speech” Screenplay by David Seidler (Winner)

Sabtu, 19 Februari 2011

Rindu Purnama





Aktor berpengalaman tanah air, Mathias Muchus, kini mencoba hal baru dalam dunia perfilman Indonesia. Kali ini bukan beradu akting, melainkan menyutradaai sebuah film berjudul Rindu Purnama.
Untuk film perdananya ini, ia mengambil tema yang cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan sebuah masyarakat yang penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesama.

Ketika Rindu (Salma Paramitha) dan teman-temannya diburu oleh aparat akibat mengamen di jalanan, ketergesa-gesaan dan kecepatan kadang kurang menjadi kombinasi yang diperhatikan. Rindu tertabrak mobil di jalan saat berupaya meloloskan diri dan mengalami amnesia ringan. Beruntung sang penabrak, Pak Pur (Landung Simatupang), seorang supir yang bertanggung jawab, membawa Rindu kerumah majikannya, Pak Surya (Tengku Firmansyah). Surya yang (pada awalnya) tak suka dengan anak kecil yang rewel dan manja pun terusik dengan keberadaan Rindu dirumahnya. Akhirnya Surya pun mengultimatum pak Pur agar secepatnya mengekstradisi Rindu ke tempat asalnya.


Keadaan Rindu yang mengalami amnesia ringan, membuat ia bahkan tak sanggup mengingat nama dan tempat tinggalnya. Hal ini mengetuk nurani terdalam pak Pur antara meninggalkan Rindu di jalanan, atau membawanya kembali pulang. Dan ketika Surya masih menemukan Rindu dirumahnya, Surya memilih untuk bertindak dengan caranya sendiri. Sadar tak disukai oleh si pemilik rumah, membuat Rindu akhirnya melarikan diri. Hal ini justru tak membuat Surya lompat kegirangan karena tak usah repot-repot lagi. Ia justru merasa sangat bersalah. Sebagai seorang pekerja kantoran teladan yang dekat dengan tuhan, ia merasa hubungannya dengan makhluk tuhan lain bernama anak kecil sama sekali tak terjalin baik. Dan setelah kejadian pelarian Rindu, ia sangat ingin sekali menciptakan hablum minannas yang sempurna.

Setelah beberapa waktu menganalisis kemungkinan-kemungkinan tentang kemana Rindu melarikan diri, akhirnya mengerucutkan pencarian dimana Surya bertemu Sarah (Ririn Ekawati), seorang pemilik rumah singgah tempat Rindu dan teman-temannya bermukim. Kesibukan Surya dan Sarah yang bersama-sama mencari Rindu, diketahui Monik (Titi Sjuman), seorang putri dari pimpinan perusahaan tempat Surya bekerja, dan cemburu berat. Beruntungnya, Monik punya senjata ampuh untuk memisahkan hubungan antara Surya dan Sarah, dan Surya mencoba menangkalnya dengan suara hati, yang ternyata menakjubkan.





Walaupun ini adalah debut perdana Mathias Muchus sebagai sutradara, Rindu Purnama terlihat seperti ditukangi oleh sutradara berpengalaman. Di beberapa sektor memang masih terdapat poin-poin yang harus diperhatikan. Seperti  pada saat memukul gong, seharusnya ia bisa memukulnya dengan pukulan yang lebih nyaring dan memekakkan, walaupun memang sudah sangat keras. Tapi itu tak menjadi masalah serius. Pemilihan para pemeran film ini sangat jitu, dan sepertinya menjadi kunci utama mendongkrak kehebatan Rindu Purnama. Kemampuan Tengku Firmansyah sudah tak usah diperdebatkan. Titi Sjuman dan Ririn Ekawati juga menampilkan kegemilangannya. Dan yang cukup banyak menyita perhatian saya adalah para pemeran anak kecil yang sangat mengagumkan. Farril Ramadhan jadi favorit saya.

Ketika film lainnya sibuk dengan erotisme murahan pada malam bulan purnama yang mencekam, Rindu Purnama, adalah suguhan tanah air yang sungguh menyejukkan, ditengah keringnya kualitas film dalam negeri saat ini.



9,4/10

Rabu, 09 Februari 2011

Takut (Faces of Fear)





Beberapa sutradara ternama Indonesia ambil bagian dalam Takut (Faces of Fear), film kompilasi dari 6 cerita horor/thriller. Beliau-beliau tersebut adalah; Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Radhitya Sidharta, dan The Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothi Tjahjanto).

Show Unit, adalah cerita pertama yang ditampilkan dalam film ini. Bercerita tentang sepasang kekasih, Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty), yang menghadiri pesta di tempat tinggal tetangganya. Tiba-tiba Dinna melihat lampu rumahnya menyala, dan Bayu segera pergi ke sana untuk mengecek apakah ada perampok yang menyatroni rumah mereka. Berbekal dengan sebilah pisau di tangan, Bayu melakukan aksi yang tak pernah direncanakan.


Titisan Naya, menceritakan tentang gadis muda modern, Naya (Dina Olivia) dan ibunya, yang pergi menghadiri upacara ritual cuci keris di rumah saudaranya. Naya bertemu dengan sepupunya (Junior Liem), yang kini sudah tumbuh dewasa dan menggairahkan dirinya. Ritual keramat yang diacuhkan dengan kurang pantas oleh Naya, membuat ia harus menerima konsekuensinya.


Peeper, menceritakan tentang seorang cleaning service bernama Bambang (Epy Kusnandar), yang mempunyai kebiasaan buruk yaitu mengintip. Dengan kesukaannya melihat kemolekan tubuh perempuan, ia menghadiri pertunjukan wayang orang yang dimainkan oleh seorang penari wanita (Wiwied Gunawan), dari tiket gratis pemberian seseorang. Hingga akhirnya, Bambang pun harus membayar kebiasaannya itu.


The List, menceritakan perempuan bernama Sarah (Shanty), yang masih sakit hati dengan mantan kekasihnya, Andre (Fauzi Baadila), dengan mendatangi dukun santet kenamaan untuk mengerjainya. Sarah pun dengan cekatan menyiapkan daftar teluh apa saja yang harus dikirim oleh sang dukun untuk beraksi. Sampai akhirnya ia tahu, bahwa balas dendam bukan cara satu-satunya.


The Rescue, menceritakan tentang kota Jakarta yang terjangkit virus akibat sebuah ledakan laboratorium biologi, yang mengubah masyarakat yang terinfeksi menjadi makhluk ganas tak terhentikan. Tim Gegana berupaya melindungi dua orang (Sogi Indraduaja & Eva Celia Lesmana) yang berhasil selamat dari virus, dan berupaya melindungi diri mereka sendiri.


Dara, berkisah tentang seorang perempuan bernama Dara (Shareefa Daanish), yang merupakan pemilik sekaligus head chef restoran yang ia kelola. Parasnya yang cantik dan mempesona, membuat ia dengan mudah mengajak para pengunjung pria untuk mendapatkan jamuan "Spesial" di rumah Dara. Jamuan yang benar-benar tak masuk akal.


Dari enam cerita yang disuguhkan, yang cukup mengambil hati saya adalah cerita Dara. Untuk 5 cerita lainnya, masih adanya ketidakoriginalan dan kurangnya kemampuan eksekusi cerita dengan lebih mantap, membuat adegan-adegan mereka seperti lewat begitu saja. 
Contohnya, ketika Show Unit meniru Sin City dan Hitchcock. Lalu adegan tarian pada Titisan Naya, mengingatkan saya pada The Victim. Atau Bangkok Haunted dalam Peeper.

Sebenarnya saya sangat berharap pada The Rescue (karena ini genre film favorit saya), film zombie lokal yang tiba-tiba muncul di tengah derasnya film horor esek-esek murahan. Namun lagi-lagi, cerita yang kurang kuat dan eksekusi yang belum apik membuat film ini jadi biasa saja.

Mungkin, Takut harus berterima kasih pada Dara, yang menurut saya menyelamatkan film ini dari kebiasaan. Shareefa Daanish yang begitu mencekam dengan keanggunan yang ia miliki, membuat film ini setidaknya menyematkan senyum di wajah saya pada akhirnya.



7,6/10