Selasa, 25 Oktober 2011

Sang Penari






Seorang pemuda berjalan dengan tenang—lain dengan suasana hatinya—menyusuri desa yang gersang dan senyap sambil terus menjaga ekor matanya. Bahkan ia sendiri pun tahu, kedatangannya di desa itu tak akan membuat ia bisa menemukan dan memboyong kekasihnya, Srintil (Prisia Nasution). Sementara kang Sakum (Hendro Djarot), penabuh kendang uzur yang—beruntung—tak diangkut tentara itu, tak bisa memberikan informasi apa-apa.

Ifa Isfansyah, sang sutradara, membuat proyek visualisasi elektronik ini dari cerita fenomenal berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1981) karya Ahmad Tohari. Munculah sekelumit ketakutan dan rasa kekurangtebalan harapan, ketika sebuah pengadaptasian novel—yang notabene legendaris—dituangkan ke dalam sebuah media visual. Penerjemahan seperti itu butuh upaya yang tidak mudah dan riskan bias terhadap karya aslinya; bukan karena apa-apa, dahulu Ronggeng Dukuh Paruk juga sudah divisualisasikan dalam film berjudul Darah dan Mahkota Rongeng (1983) dan banyak yang menyayangkan karena pesan yang disampaikan jauh melenceng dari apa yang ada dalam novel (walaupun banyak juga karya penerjemahan yang sanggup membuat penikmat novel dan film sekaligus berada dalam klimaks kepuasan yang hebat). 

Rasus (Nyoman Oka Antara), tentara yang kini telah gagah itu, hanya ingin bertemu tambatan hatinya—yang juga merupakan sahabat dari kecilnya—Srintil. Ia juga dengan sekuat tenaga mendesak rasa sakit hatinya untuk tetap kalem dan rela diinjak-injak oleh atasannya, yang akhirnya mematahkan kalimat janjinya: “Sak malem itu kamu dadi ronggeng, aku nggak pernah mau balik kesini..,” karena benci Srintil menjadi “milik bersama”.

Tetapi Srintil punya alasan yang tak pernah bisa Rasus lawan—dan Rasus tahu itu. Selain besarnya kecintaan Srintil terhadap perkara menari, ia juga dalam rangka mewujudkan darmabhaktinya terhadap Dukuh Paruk, lantaran dulu orangtuanya telah melakukan kesalahan yang amat sulit diterima.

Kepelikan dan rasa cemas dari ibu kota yang tengah gonjang-ganjing terhadap isu tentang komunisme merembet dan ketakutan itu terkabul setelah beberapa oknum komunis berhasil menyeluduk ke Dukuh Paruk.

Ifa Isfansyah, menampilkan kisah cinta murni yang ngenas, muskil, dan penuh pengorbanan. Ia tidak menjejali dialog-dialog yang renyuh dan sendu, tetapi walau kisahnya remuk redam, romantismenya tetap amat terasakan. Tak melulu itu, di sini juga diceritakan tragedi kemanusiaan dan kritik sosial di era 60-an.  Dalam keterlibatannya dengan film-film sebelumnya seperti Garuda di Dadaku (2009) dan Rindu Purnama (2011), ia memang terlihat lebih suka membahasakan sebuah kehumanisasian dalam bentuk perjuangan.

Riset skenario Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa Isfansyah sendiri pun, yang menciptakan ruang apresiasi baru, amat begitu brilian; tentu juga dengan tata produksinya yang hebat, dan departemen akting para pemainnya yang jauh dari cacat.

Sang Penari begitu baik, begitu mesti disaksikan. Dan mungkin bisa dikatakan, Sang Penari mencapai titik puncak keberhasilannya, setelah Ahmad Tohari sendiri beberapa waktu lalu menyaksikan film ini dan berkata, “Saya menangis. Saya datang sebagai penonton dan saya terhanyut.”








  
3,5/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar