Jumat, 28 Oktober 2016

Doctor Strange (2016)





 “Feels So Good” milik Chuck Mangione yang disetel dari ipod mengambang di ruangan. Strange memimpin jalannya operasi sambil berdebat dengan rekannya ihwal kapan lagu tersebut diproduksi. Dari kaca luar, terlihat Palmer (Rachel McAdams) yang koleganya sesama dokter sekaligus mantan pacarnya memberikan kode. Strange segera pindah ke ruangan lain untuk menangani  pasien dengan situasi yang lebih serius dan menantang.

Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) memang seorang jenius. Ia seorang neurosurgeon alias dokter bedah untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan sistem syaraf dan otak yang sering masuk televisi. Otaknya brilian, tangannya terampil. Pria yang lumayan arogan dan selalu ingin jadi yang terbaik itu punya karier gemilang. Maka dari itu mudah saja baginya untuk memilih jam tangan mahal mana yang akan ia pakai malam nanti dan kemudian melesat dari apartemennya yang mewah di Manhattan dengan mobil sport miliknya.

Itulah Stephen Strange yang diperkenalkan ke penonton, sampai akhirnya ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangannya setengah lumpuh. Kemudian kita tahu bagaimana terguncangnya dunia serba ideal milik Strange.

Berbagai cara ia lakukan agar dapat kembali pada kondisi semula, namun selalu gagal, sampai akhirnya ia bertemu Jonathan Pangborn yang pernah sembuh total dari cedera yang lebih parah. Strange kemudian pergi ke Kamar-Taj di Nepal setelah mendapat saran dari Pangborn dan di sana ia bertemu Mordo (Chiwetel Ejiofor), Wong (Benedict Wong), dan The Ancient One (Tilda Swinton). “I don't believe in fairytales about chakras or energy or the power of belief.” Tentu saja pengetahuan “barat” Strange menolak segala apa yang dijelaskan di sana. “You think you know how the world works. You think this material universe is all there is. What if I told you the reality you know is one of many?”.

Di sana kesadaran Strange terbuka akan ranah yang tak terlihat, rahasia astral, multiverse paralel, juga ihwal muslihat dimensi ruang dan waktu. Pada awalnya jelas ia kelojotan karena tujuannya ke sana hanyalah untuk menyebuhkan dirinya dan lalu mendapati situasi yang berbeda. “Heroes like the Avengers protect the world from physical dangers. We safeguard it against more mystical threats,” Wong menjelaskan.

Tentu yang terjadi selanjutnya adalah formulasi khas Marvel tentang bagaimana kemudian khalayak harus diselamatkan. Yang menyegarkan adalah Doctor Strange tak terkesan bak-buk-bak-buk seperti Iron Man dan Captain America. Para pahlawan dan penjahat di sini menekuk ruang dan waktu, melampaui dimensi metafisik; menggunakan lingkungan sebagai senjata atau jalan kabur. Penonton akan melihat sinematografi kelas satu dengan konkretisasi visual juga pesona misterinya yang spektakuler.

Yang agak disayangkan adalah talenta Mads Mikkelsen yang tersia-siakan, yang menjadi Kaecilius, murid Ancient One yang membelot. Rachel McAdams juga kurang mendapat porsi yang lebih banyak, padahal penonton tentu ingin melihat bagaimana hubungan antara Strange dan Palmer dengan intensitas yang lebih kuat.

Selain Scott Derrickson sang sutradara—ia bersama C. Robert Cargill untuk penulisan skripnya yang sangat baik—dan Ben Davis sebagai sinematografer, yang harus diapresiasi adalah Michael Giacchino sebagai komposer dengan scoring-nya yang tak ribut tetapi juga bukan hanya sebagai iringan tempelan saja, melainkan mampu menghadirkan musik bersukma yang mampu mengiringi Strange dan yang lain berpetualang dalam hamparan penuh rahasia.










4/5


Kamis, 01 September 2016

Train to Busan (2016)





“Dad, you lied again.”

Kalimat itu meluncur menohok dari bibir gadis kecil yang merasa ayahnya terus menerus diterpa kesibukan. So-aan (Soo-an Kim) yang besok berulangtahun tak mau bingkisan apapun kecuali bertemu ibunya. Sang ayah, Seok Woo (Yoo Gong), yang seorang manajer pendanaan, yang powerful dan kaya itu sebetulnya sayang anaknya. Tetapi dengan setumpuk pekerjaan yang mesti ia urus membuatnya tak dapat meluangkan banyak waktu dengan So-aan dan membuat anaknya lebih banyak menghabiskan waktu dengan sang nenek yang tinggal bersama Seok Woo karena pria itu telah bercerai dengan istrinya. “I’ll take you to Mom, no matter what,” kata Seok Woo setelah merasa hubungannya dengan anaknya sudah mencapai titik nadir. Berangkatlah mereka berdua dari Seoul menuju Busan menggunakan kereta.

Di kereta yang segalanya nampak biasa-biasa saja pada awalnya, berubah mencekam. Seorang perempuan aneh berhasil masuk ke dalam kereta tanpa diketahui petugas. Perempuan itu mengunyah leher salah seorang petugas kereta dan dalam hitungan detik petugas itu berubah menjadi ganas pula: matanya berubah menjadi putih mengkilap, kulit pucat dengan vena menonjol, berlari memburu penumpang lain sambil menggeram keras. Sementara di gerbong lain, televisi menyiarkan berita ihwal infeksi yang menjangkiti kota. Kacau. Kata “mayat hidup” menjadi tren di media sosial. Dalam waktu singkat banyak penumpang kereta yang berubah menjadi “zombie” dan para yang tak terjangkit—belum tergigit—berusaha menyelamatkan diri di hari paling buruk dalam hidup mereka.

Di sinilah lika-liku cerita menajam. Selain konflik dengan para zombie, para penumpang selamat juga berkonflik dengan penumpang selamat lainnya mengenai ego masing-masing. Dengan beragam macam jenis manusia di dalam kereta: seorang pebisnis, anak-anak SMA anggota tim baseball, nenek-nenek, homeless guy dan perempuan hamil beserta suaminya yang kekar namun lembut hatinya, semuanya mengalami konflik antara mementingkan diri sendiri atau tetap menolong yang lain dengan kecenderungan apes yang besar. “At a time like this, only watch your self,” tegur Seok Woo kepada anaknya setelah gadis itu memberikan tempat duduknya kepada perempuan tua.

Meski film ini membuat adrenalin berpacu dan penuh kekerasan, tetapi dengan cerdas sang sutradara yang juga penulisnya, Sang-ho Yeon, memadukan yang demikian itu dengan melodrama yang seimbang. Pergesekan antara mempertahankan diri atau berkorban di sini dijelentrehkan Sang-ho Yeon dengan brilian yang menampilkan stereotip berkenaan dengan masyarakat modern saat ini dengan karakter-karakter yang kaya. Seorang pebisnis kurang ajar (diperankan dengan baik oleh Kim Ui-Seon) yang serakah, egois, yang sering menganggap diri mereka yang pertama, begitu pas dengan apa yang ada dalam benak kita. Soo-an sang gadis cilik mewakili kita: bagaimana harus bereaksi dalam keadaan gila dan apakah moral dan nilai-nilai yang kita miliki akan memengaruhi tindakan kita. Karakter badass diperankan oleh Dong-seok Ma yang justru mencuri perhatian: dengan tubuh besar dan kekar yang meninju menghajar zombie yang ada di hadapannya agar istrinya yang tengah hamil terus bertahan.

Tak ada adegan yang dipaksakan dalam Train to Busan dan sang sutradara mampu menjaga flow terasa pas dari awal hingga akhir dengan pace yang cepat. Di sini kita juga akan merasakan napas George Romero dan Danny Boyle. Lanskap kota Seoul yang hancur dan suasana mencekam mampu dihadirkan dengan sangat baik dengan tata sinematografi yang top, juga scoring-nya. Penggemar film bergenre ini rasa-rasanya akan dengan mudah menyukai film ini.






 

4/5



Sabtu, 07 Maret 2015

Oscars 2015: Winners list




A full list of winners for the 87th Academy Awards.

 

Best picture

Winner: Birdman
American Sniper
Boyhood
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
Selma
The Theory of Everything
Whiplash

Best director

Winner: Alejandro G Inarritu, Birdman
Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel
Richard Linklater, Boyhood
Bennett Miller, Foxcatcher
Morten Tyldum, The Imitation Game

Best actor

Winner: Eddie Redmayne, The Theory of Everything
Steve Carell, Foxcatcher
Bradley Cooper, American Sniper
Benedict Cumberbatch, The Imitation Game
Michael Keaton, Birdman

 

Best actress

Winner: Julianne Moore, Still Alice
Marion Cotillard, Two Days, One Night
Felicity Jones, The Theory of Everything
Rosamund Pike, Gone Girl
Reese Witherspoon, Wild

 

Best supporting actor

Winner: JK Simmons, Whiplash
Robert Duvall, The Judge
Ethan Hawke, Boyhood
Edward Norton, Birdman
Mark Ruffalo, Foxcatcher

 

Best supporting actress

Winner: Patricia Arquette, Boyhood
Laura Dern, Wild
Keira Knightley, The Imitation Game
Emma Stone, Birdman
Meryl Streep, Into the Woods

 

Best adapted screenplay

Winner: The Imitation Game
American Sniper
Inherent Vice
The Theory of Everything
Whiplash

 

Best original screenplay

Winner: Birdman
Boyhood
Foxcatcher
The Grand Budapest Hotel
Nightcrawler

 

Best animated feature

Winner: Big Hero 6
The Boxtrolls
How to Train Your Dragon 2
Song of the Sea
The Tale of Princess Kaguya

 

Best animated short

Winner: Feast
The Bigger Picture
The Dam Keeper
Me and My Moulton
A Single Life

 

Best cinematography

Winner: Birdman
The Grand Budapest Hotel
Ida
Mr Turner
Unbroken

 

Best costume design

Winner: The Grand Budapest Hotel
Inherent Vice
Into the Woods
Maleficent
Mr Turner

 

Best documentary feature

Winner: CitizenFour
Finding Vivian Maier
Last Days in Vietnam
The Salt of the Earth
Virunga

 

Best documentary short

Winner: Crisis Hotline: Veterans Press 1
Joanna
Our Curse
The Reaper
White Earth

 

Best film editing

Winner: Whiplash
American Sniper
Boyhood
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game

 

Best foreign language film

Winner: Ida (Poland)
Leviathan (Russia)
Tangerines (Estonia)
Timbuktu (Mauritania)
Wild Tales (Argentina)

 

Best live action short

Winner: The Phone Call
Aya
Boogaloo and Graham
Butter Lamp (La Lampe Au Beurre De Yak)
Parvaneh

 

Best make-up & hairstyling

Winner: The Grand Budapest Hotel
Foxcatcher
Guardians of the Galaxy

 

Best original score

Winner: The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
Interstellar
Mr Turner
The Theory of Everything

 

Best production design

Winner: The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
Interstellar
Into the Woods
Mr Turner

 

Best song

Winner: Glory, Selma
Everything is Awesome, The Lego Movie
Grateful, Beyond the Lights
I'm Not Gonna Miss You, Glen Campbell… I'll Be Me
Lost Stars, Begin Again

 

Best sound editing

Winner: American Sniper
Birdman
The Hobbit: The Battle of the Five Armies
Interstellar
Unbroken

 

Best sound mixing

Winner: Whiplash
American Sniper
Birdman
Interstellar
Unbroken

 

Best visual effects

Winner: Interstellar
Captain America: The Winter Soldier
Dawn of the Planet of the Apes
Guardians of the Galaxy
X-Men: Days of Future Past

Minggu, 11 Mei 2014

Her (2013)




Beberapa waktu belakangan, Theodore (Joaquin Phoenix) hidup dalam diorama tentang rasa sepi. Di tengah napas dunia yang sering kali tak terpahami, ia selalu membayang dan mengenang Catherine (Rooney Mara), istrinya—dan akan menjadi mantan istri—yang tak lagi tinggal dengannya. Theodore hidup di Los Angeles masa depan, era di mana komputer dan mobile phone tak lagi menggunakan keyboard untuk mengetik, tetapi dengan voice recognition dan digital personal assistant. Ia bekerja sebagai penulis surat di beautifulhandwrittenletters.com, sebuah website jasa khusus penulisan surat untuk orang tercinta. Pria yang selalu meninggalkan kantor paling belakangan itu merasa hari-harinya kosong dan sepi. Ketika sang resepsionis kantor yang mengidolai tulisannya memujinya, ia hanya membalas dengan nada datar, “They’re just other people’s letters.”

Kehidupan Theodore berubah ketika ia mencoba sistem operasi komputer baru bernama OS1. Sistem komputer ini diklaim perusahaannya sebagai the first artificially intelligent operating system. Theodore memilih suara perempuan untuk operating system-nya. “Well you seem like a person, but you're just a voice in a computer,” ujar Theodore. “I can understand how the limited perspective of an un-artificial mind would perceive it that way. You'll get used to it,” terang sang OS yang menamakan dirinya Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johansson) yang menyebut bahwa  ia memiliki intuisi. Ya, Samantha adalah operating system.

Dengan cepat Theodore menemukan dirinya tertarik dengan hyper-sophisticated artificial intelligence bersuara perempuan yang bisa melakukan banyak hal itu, seperti membuat lagu dengan bebunyian piano, memberikan nasihat dan saran, atau bahkan memilihkan tempat kencan yang oke. Ia hangat, cerdas, dan juga amat nyata bagi Theodore. Theodore pun kemudian jatuh cinta dengan Samantha dan begitu pula sebaliknya. Hal ini juga terjadi pada banyak orang dan meminjam istilah Amy (Amy Adams), sahabat karib yang juga mantan pacar Theodore, it's kind of like a socially acceptable insanity.

Jatuh cinta memang kerap mengubah cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak kita dalam setiap situasi. Hal itu juga kadang mendorong kita membuat pilihan yang tak rasional dan tak sesuai logika, dan ketika cinta berada dalam masalah, tak ada yang lebih menyakitkan. Cinta, adalah abstraksi murni yang secara konstan bergulung dan berputar di balik dada, dan hal ini adalah salah satu hal yang paling sulit untuk diadaptasikan ke dalam fiksi dengan cara yang penuh arti dan penuh dampak. Bersama Her, inilah yang Spike Jonze capai.

Walaupun Samantha hanyalah sesuatu yang bisa dirasakan lewat earpiece dan gadget berukuran tangan, Theodore dan Samantha dengan cepat membentuk ikatan persahabatan dan tak membutuhkan waktu lama untuk akhirnya menjadi sesuatu yang lebih. Keduanya berkembang dan berubah sebagai individu, juga hubungan itu sendiri beserta kompleksitas aneh yang mengikutinya. Dengan hal seperti ini, Her hanya bisa selamat dengan tiga cara: skenario yang rapi dan dialog yang jujur serta chemistry antar setiap pemain.

Kedua pemeran utama mendapatkan tantangan yang sangat serius—bagaimana yang satu tampil secara sendirian di ruangan, dan yang satunya muncul hanya dengan peran suara saja. Dan keduanya memanfaatkan ini sebagai titik tegas penampilan terbaik sepanjang karier mereka yang pernah kita lihat. Joaquin Phoenix betul-betul memberikan napas pada karakter Theodore sebagai pria yang introverted dan kesepian. Kita yakin bahwa Theodore memang tidak pernah tahu apa yang sebetulnya ia inginkan. Scarlett Johnasson pun sukses menyuguhkan a masterful vocal performance. Tanpa kita melihat wajahnya, ia mampu menyampaikan semua perasannya melalui nada dan pengaturan tempo suara. Amy Adams dan Rooney Mara juga menampilkan seni peran berkelas. Chemistry Joaquin Phoenix dengan Rooney Mara sangat baik: kita merasakan ketidakmampuan Theodore untuk memahami apa yang salah dengan pernikahannya bersama Catherine. Joaquin dengan Amy Adams juga sangat meyakinkan sebagai sahabat karib yang selalu mengisi satu sama lain. Departemen akting film ini betul-betul mengirimkan kejujuran emosional murni dan itu adalah sesuatu yang langka. Nama Joaquin Phoenix jelas lebih pantas dipilih sebagai nominasi Oscar ketimbang Christian Bale dalam American Hustle

Dengan script seperti ini, tak mengherankan jika akhirnya Spike Jonze diganjar Oscar pada kategori best original screenplay. Ia tak hanya membuat salah satu modern romance terbaik yang pernah kita tonton, tetapi juga benar-benar inovatif sekaligus efektif dalam menciptakan dunia sci-fi. Kemajuan futuristik yang ditampilkan tak hanya membantu menciptakan setting di mana sistem operasi yang berkesadaran tampaknya bisa menjadi kenyataan—dan berarti pengamatan Spike Jonze tajam—tetapi juga kelucuan pada cerita. Lihat game yang dimainkan Theodore di kamar apartemennya: sistem video game interaktif hologram yang konyol yang bisa mengolok-olok yang memainkan. Lalu tempat kerja Theodore yang bernama Beautiful Handwritten Letters—yang sebetulnya tidak ditulis tetapi didikte dan otomatis tertulis di layar komputer. Spike Jonze tak perlu menampilkan mobil terbang atau warga Bumi yang salto di Mars untuk melukiskan masa depan, tetapi cukup dengan cara yang terlihat ringan namun menyentuh. Kebrilianan semacam ini bisa saja disebabkan karena Spike Jonze pernah berkolaborasi dengan screenwriter handal sekaliber Charlie Kaufman, merujuk kerja sama mereka pada Being John Malkovich dan Adaptation.

Her berhasil menjadi sebuah film utuh yang dibuat dengan tangan yang rapi dan seni peran yang bersinar. Secara keseluruhan film ini menunjukkan kerjasama yang intens antara Spike Jonze sebagai sutradara dan penulis script dengan para pemainnya.










4,5/5

Senin, 03 Maret 2014

86th Academy Awards Winners






 

Best Picture

American Hustle
Captain Phillips
Dallas Buyers Club
Gravity
Her
Nebraska
Philomena
WINNER: 12 Years a Slave
The Wolf of Wall Street

 

Best Director

WINNER: Alfonso Cuarón, Gravity
Steve McQueen, 12 Years a Slave
Alexander Payne, Nebraska
David O. Russell, American Hustle
Martin Scorsese, The Wolf of Wall Street

 

Best Actor

Christian Bale, American Hustle
Bruce Dern, Nebraska
Leonardo DiCaprio, The Wolf of Wall Street
Chiwetel Ejiofor, 12 Years a Slave
WINNER: Matthew McConaughey, Dallas Buyers Club

 

Best Actress, Drama

Amy Adams, American Hustle
WINNER: Cate Blanchett, Blue Jasmine
Sandra Bullock, Gravity
Judi Dench, Philomena
Meryl Streep, August: Osage County

 

Best Supporting Actor

Barkhad Abdi, Captain Phillips
Bradley Cooper, American Hustle
Michael Fassbender, 12 Years a Slave
Jonah Hill, The Wolf of Wall Street
WINNER: Jared Leto, Dallas Buyers Club

 

Best Supporting Actress

Sally Hawkins, Blue Jasmine
Jennifer Lawrence, American Hustle
WINNER: Lupita Nyong’o, 12 Years a Slave
Julia Roberts, August: Osage County
June Squibb, Nebraska

 

Best Adapted Screenplay

Philomena, Steve Coogan and Jeff Pope
Before Midnight, Richard Linklater, Ethan Hawke, and Julie Delpy
Captain Phillips, Billy Ray
WINNER: 12 Years a Slave, John Ridley
The Wolf of Wall Street, Terence Winter

 

Best Original Screenplay

American Hustle, David O. Russell and Eric Singer
Blue Jasmine, Woody Allen
Dallas Buyers Club, Craig Borten and Melissa Wallack
WINNER: Her, Spike Jonze
Nebraska, Bob Nelson

 

Best Cinematography

The Grandmaster, Philippe Le Sourd
WINNER: Gravity, Emmanuel Lubezki
Inside Llewyn Davis, Bruno Delbonnel
Nebraska, Phedon Papamichael
Prisoners, Roger Deakins

 

Best Costume Design

American Hustle, Michael Wilkinson
The Grandmaster, William Chang Suk Ping
WINNER: The Great Gatsby, Catherine Martin
The Invisible Woman, Michael O'Connor
12 Years a Slave, Patricia Norris

 

Best Film Editing

American Hustle, Jay Cassidy, Crispin Struthers, and Alan Baumgarten
Captain Phillips, Christopher Rouse
Dallas Buyers Club, John Mac McMurphy and Martin Pensa
WINNER: Gravity, Alfonso Cuarón and Mark Sanger
12 Years a Slave, Joe Walker

 

Best Makeup and Hairstyling

WINNER: Dallas Buyers Club, Adruitha Lee and Robin Mathews
Jackass Presents: Bad Grandpa, Stephen Prouty
The Lone Ranger, Joel Harlow and Gloria Pasqua-Casny

 

Best Original Score

The Book Thief, John Williams
WINNER: Gravity, Stephen Price
Her, William Butler and Owen Pallett
Philomena, Alexandre Desplat
Saving Mr. Banks, Thomas Newman

 

Best Original Song

"Happy” from Despicable Me 2, Pharrell Williams
WINNER: "Let It Go" from Frozen, Kristen Anderson-Lopez and Robert Lopez
"The Moon Song" from Her, Karen Orzolek and Spike Jonze
"Ordinary Love" from Mandela: Long Walk to Freedom, U2

 

Best Production Design

American Hustle, Judy Becker (Production Design); Heather Loeffler (Set Decoration)
Gravity, Andy Nicholson (Production Design); Rosie Goodwin and Joanne Woollard (Set Decoration)
WINNER: The Great Gatsby, Catherine Martin (Production Design); Beverley Dunn (Set Decoration)
Her, K. K. Barrett (Production Design); Gene Serdena (Set Decoration)
12 Years a Slave, Adam Stockhausen (Production Design); Alice Baker (Set Decoration)

 

Best Sound Editing

All Is Lost, Steve Boeddeker and Richard Hymns
Captain Phillips, Oliver Tarney
WINNER: Gravity, Glenn Freemantle
The Hobbit: The Desolation of Smaug, Brent Burge
Lone Survivor, Wylie Stateman

 

Best Sound Mixing

Captain Phillips, Chris Burdon, Mark Taylor, Mike Prestwood Smith, and Chris Munro
WINNER: Gravity, Skip Lievsay, Niv Adiri, Christopher Benstead, and Chris Munro
The Hobbit: The Desolation of Smaug, Christopher Boyes, Michael Hedges, Michael Semanick, and Tony Johnson
Inside Llewyn Davis, Skip Lievsay, Greg Orloff, and Peter F. Kurland
Lone Survivor, Andy Koyama, Beau Borders, and David Brownlow

 

Best Visual Effects

WINNER: Gravity, Tim Webber, Chris Lawrence, Dave Shirk, and Neil Corbould
The Hobbit: The Desolation of Smaug, Joe Letteri, Eric Saindon, David Clayton, and Eric Reynolds
Iron Man 3, Christopher Townsend, Guy Williams, Erik Nash and Dan Sudick
The Lone Ranger, Tim Alexander, Gary Brozenich, Edson Williams, and John Frazier
Star Trek into Darkness, Roger Guyett, Patrick Tubach, Ben Grossmann, and Burt Dalton

 

Best Animated Feature

The Croods, Kirk DeMicco, Chris Sanders, and Kristine Belson
Despicable Me 2, Pierre Coffin, Chris Renaud, and Chris Meledandri
Ernest & Celestine, Benjamin Renner and Didier Brunner
WINNER: Frozen, Chris Buck, Jennifer Lee, and Peter Del Vecho
The Wind Rises, Hayao Miyazaki and Toshio Suzuki

 

Best Documentary Feature

The Act of Killing, Joshua Oppenheimer and Signe Byrge Sørensen
Cutie and the Boxer, Zachary Heinzerling and Lydia Dean Pilcher
Dirty Wars, Richard Rowley and Jeremy Scahill
The Square, Jehane Noujaim and Karim Amer
WINNER: 20 Feet from Stardom, Morgan Neville, Gil Friesen, and Caitrin Rogers

 

Best Foreign Language Film

The Broken Circle Breakdown, Felix Van Groeningen
WINNER: The Great Beauty, Paolo Sorrentino
The Hunt, Thomas Vinterberg
The Missing Picture, Rithy Panh
Omar, Hany Abu-Assad

 

Best Animated Short

"Feral," Daniel Sousa and Dan Golden
"Get a Horse!" Lauren MacMullan and Dorothy McKim
WINNER: "Mr. Hublot," Laurent Witz and Alexandre Espigares
"Possessions," Shuhei Morita
"Room on the Broom," Max Lang and Jan Lachauer

 

Best Live-Action Short

"Aquel No Era Yo (That Wasn't Me)," Esteban Crespo
"Avant Que de Tout Perdre (Just Before Losing Everything)," Xavier Legrand and Alexandre Gavras
WINNER: "Helium," Anders Walter and Kim Magnusson
"Pitääkö Mun Kaikki Hoitaa? (Do I Have to Take Care of Everything?)," Selma Vilhunen and Kirsikka Saari
"The Voorman Problem," Mark Gill and Baldwin Li

 

Best Documentary Short

"CaveDigger," Jeffrey Karoff
"Facing Fear," Jason Cohen
"Karama Has No Walls," Sara Ishaq
WINNER: "The Lady in Number 6: Music Saved My Life," Malcolm Clarke and Nicholas Reed
"Prison Terminal: The Last Days of Private Jack Hall," Edgar Barens

Jumat, 07 Februari 2014

Killers (2014)






Di salah satu lipatan kota Tokyo, terseliplah sebuah dunia muram milik Nomura (Kazuki Kitamura). Lama hidup sebatang kara, eksekutif tampan mandiri dan selalu tampil perlente itu memiliki masalah kejiwaan berat. Ia kerap membawa perempuan cantik ke rumah dan seperti biasa, ia akan menggetok kepala mereka dengan martil atau membelah tubuh mereka dengan kapak setelah sebelumnya saling terkam di ranjang. Prosesi tersebut ia dokumentasikan dan kemudian ia upload ke dunia maya.

Sementara nun jauh di Jakarta, Bayu (Oka Antara), seorang jurnalis ambisisus tengah goncang karier dan rumah tangganya lantaran obsesinya untuk mengungkap kasus seorang politisi bernama Dharma (Ray Sahetapy). Di tengah keruwetan itu, belakangan kita ketahui ia sering menonton video-video Nomura dan berkat sebuah malam yang sinting, akhirnya Bayu melakukan hal yang sama seperti Nomura. Tak dinyana, ternyata Nomura menyukai karya Bayu dan akhirnya mereka berinteraksi via internet.

Kolaborasi dua negara (Indonesia dan Jepang) ini adalah dalam rangka merayakan seratus tahun Nikkatsu Corporation, salah satu perusahaan film tertua di Jepang yang mencoba melaksanakan international collaboration production. Ide cerita asli datang dari Takuji Ushiyama yang kemudian diubah dan digodok oleh Timo. Kali ini Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timo Tjahjanto) bercerita tentang kisah psikopat yang berbeda. Dibandingkan dengan film pendahulunya, Rumah Dara (Macabre) yang mendapatkan berbagai tanggapan positif dari banyak pihak, Killers adalah sebuah lompatan.

Sebuah diorama yang mungkin tak terlalu akrab dengan keseharian kita yang menyentak; bahwa manusia memiliki sisi gelap, samar, ataupun sunyi. Nomura adalah perwakilan mereka yang telah lama hidup dalam kesepian. Sedari kecil ditinggal orangtua dan—ini yang paling menyesakkannya—ditinggal kakak perempuan yang amat dicintainya hingga ia menyimpan jasad kakaknya itu di sebuah kamar khusus di rumahnya. “Kesepian akan menyebabkan luka dalam.” Sementara Bayu adalah perwakilan yang tengah hidup dalam pergolakan hebat.

Kedua pria ini adalah orang yang sama saja seperti orang lain: mempunyai masalah dan sisi lain dalam hidup. Eksplorasi kekerasan mindset adalah yang paling bersinar dari Killers. Pendekatan-pendekatan psikologis yang lebih mengerikan daripada rangkaian kucuran darah. Kita diajak menelusuri pikiran Nomura yang gelap, yang menganggap lebih baik penderitaan dihilangkan dengan kematian. Hubungan online, pencarian jawaban dan perjuangan keduanya untuk mengeksplor dan menggali rahasia sisi tergelap mereka adalah bagian yang amat menarik untuk diikuti. Jika Nomura adalah sesosok monster yang mencari jawaban apakah betul ia memang sosok seperti itu, Bayu adalah sosok yang berjuang agar ia tidak terjerembap pada sisi tergelapnya. Tetapi dalam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, ada getir yang terpaksa ditelan. Tak hanya meneror lewat pikiran, Mo Brothers juga menyisipkan humor gelap, seperti pada adegan pelacur yang digebuki di bagasi mobil dan adegan Bayu yang berimajinasi membantai keluarga mertuanya setelah dikompori Nomura untuk mencari korban selanjutnya.

Kazuki Kitamura menampilkan seni peran berkelas: bukan hanya sebagai pembunuh yang kenes, flamboyan, dan obsesif terhadap kepuasan membunuh, tetapi juga berhasil memancarkan aura bahwa ia punya masa lalu yang kelam. Oka Antara juga cukup berhasil sebagai orang yang terguncang sekaligus ambisius. Tak hanya naskah, pengarahan, dan tata produksinya yang rapi, scoring-nya pun berhasil memanjakan penonton agar bisa melahap film ini dengan nikmat.

Bagian akhir film adalah konfirmasi: manusia bisa konsisten sakit.


 








4/5