Kamis, 28 Maret 2013

Madre (2013)





Di sebuah sore yang lembut nan ganjil, Tansen tiba-tiba sudah berada di pekuburan, di depan sebuah makam bertuliskan Tan Sin Gie: seseorang yang tak pernah dikenalnya. Dan ketika ia masih menerka-nerka apa yang tengah ia lakukan, seorang pria bernama Gandi datang padanya sembari menyerahkan sebuah amplop berisi secarik kertas dan sebuah kunci, “Ini warisan buat kamu.” Keperosoklah ia dalam liang tanya.

Tansen (Vino G. Bastian) adalah seorang pemuda berkehidupan bebas yang siang harinya dihabiskan untuk surfing, dan ketika malam datang akan anteng untuk memandangi bulan dan bintang. Dalam dua tahun terakhir ia juga aktif menulis blog curahan pengalamannya yang ia beri nama Sang Pencari Ombak. Sejauh ini, ia belum tahu suratan takdir manakah yang sedang diberikan tuhan untuknya.

Segala kebingungan pelan-pelan terkuak setelah sebuah alamat yang tertera di kertas wasiat tersebut membawanya ke Tan de Bakker, sebuah toko roti tua yang telah lama tutup dan hanya dihuni oleh seseorang yang telah tergerus kehidupan, Pak Hadi (Didi Petet). Kunci yang Tansen pegang itu ternyata kunci untuk membuka sebuah kulkas yang menyimpan Madre: sebuah biang roti tua peninggalan kakeknya. Tentu saja pada awalnya Tansen hanya cengengesan karena merasa warisan itu ditujukan pada orang yang salah, bahkan ia akan memberikan Madre secara cuma-cuma untuk Pak Hadi. Tetapi setelah dipelototi dan dibeberkan sejarah moyang Tansen yang lumayan elusif, barulah ia cukup kalem untuk mencerna situasi sableng tersebut. “Si Tan memberikan Madre untuk kamu karena ia punya maksud yang lebih besar!” Pak Hadi sendiri merupakan seorang artisan (pembuat roti) di Tan de Bakker pada tahun 60-an, pegawai Tan Sin Gie. Namun karena berbagai faktor, toko roti yang termasyhur di zamannya tersebut akhirnya tutup. Pak Hadi sendiri memang sudah berpuluh-puluh tahun menunggu malaikat penyelamat Tan de Bakker, toko roti yang telah menunggal dalam pori-pori tubuhnya.

Konflik muncul setelah Meilan Tanuwidjaja (Laura Basuki) hadir. Ia merupakan pembaca setia Sang Pencari Ombak, seorang perempuan cantik yang kok bisa-bisanya juga pengusaha toko roti, bernama Fairy Bread. Pada mulanya Mei ingin menebus Madre dengan harga yang tinggi, tetapi kemudian yang terjadi adalah kerja sama antara Tansen dengan Mei yang mewakili Fairy Bread.

Maka perjumpaan demi perjumpaan pun terjadi, dan hal tersebut adalah kausa mengapa benih-benih cinta terasa tumbuh begitu cepat. “Aku bukan ngomongin Madre, ini ngomongin kamu.”

Film ini tak saja mengisahkan bagaimana Tansen akhirnya mengungkap sejarah leluhurnya dan memulai dunianya yang baru lewat Pak Hadi, tetapi juga kolaborasi bisnis antara ia dan Mei yang—mau tak mau—melibatkan emosi. Maka dari itu, ada yang bergulung di balik dada Tansen ketika dalam rapat formal dengan petinggi-petinggi perusahaan, James (Framly Nainggolan) yang ingin membeli Tan de Bakker mengucapkan kalimat pada Mei, “Anggap saja nantinya ini hadiah perkawinan kita.” Seluruh langit Bandung mendadak mendung.

Vino G. Bastian tak hanya membakar kulitnya untuk tampil meyakinkan sebagai seorang surfer. Ia juga betulan berlatih menembus ombak bersama peselancar profesional, membentuk tubuhnya kembali, dan benar-benar belajar membuat roti. Ia dan Didi Petet menjalani kursus kilat membuat roti dengan Bion B. G. Schock, pemilik toko Roti Ny.Liem, salah satu toko dan pabrik roti tertua di Bandung. Penampilan aktingnya cukup cemerlang, walaupun terdapat pada beberapa bagian terasa sedikit berlebihan. Didi Petet sebagaimana aktor senior pada umumnya, adalah ikan yang langsung menyatu dengan elemen air. Sementara Laura Basuki yang berperan sebagai Mei, wanita pengusaha yang hidup makmur sejak kecil namun tak sombong, tampil begitu pas sebagai sosok yang penuh perencanaan tetapi mengasyikkan dan mudah dicintai. Titi Qadarsih sebagai pemeran pembantu juga tampil baik secara jenaka.

Sang sutradara, Benni Setiawan, menjabarkan ada beberapa perbedaan buku dengan filmnya. Ia mengaku mengembangkan sedikit jalan cerita karena menurutnya dengan pengembangan, film ini akan lebih cocok ditonton masyarakat umum yang belum sempat membaca bukunya walaupun benang merahnya tetap sama. Benni memang terlihat lebih bersinar ketika ia memvisualisasikan filmnya dari karya buku, seperti 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010) yang diangkat dari dua novel Ben Sohib berjudul Da Peci Code dan Rosyid dan Delia. Madre sendiri merupakan buku ketiga dari Dewi Lestari yang diangkat ke layar lebar, setelah sebelumnya didahului oleh Perahu Kertas dan Rectoverso.

Sedikit terasa tergesa-gesa pada bagian-bagian awal film, tetapi Madre adalah sajian yang layak dicoba. Kita bisa lihat, Tansen memang punya prinsip hidup bebas, santai, lapang, namun juga memiliki sejarah hidup seperti kutu loncat. Mei yang semenjak kecil sudah gemah ripah loh jinawi ternyata juga tak mampu menghilangkan sebuah ingatan kelam yang terus mengganjal pikirannya. Pertanyaannya adalah, apa benar mereka sudah bahagia? Sudah idealkah kehidupan mereka? Pertemuan keduanya mungkin akan mengingatkan kita pada sajak Rendra yang berbunyi, “Indahnya ketenangan turun ke hatiku. Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.










3,5/5



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar