Rabu, 13 April 2011

?





Film ini menyuguhkan kisah tiga kehidupan keluarga yang berbeda kepercayaan, yang menjalani kehidupan dalam satu kawasan yang sama. Yang pertama adalah kisah keluarga Soleh (Reza Rahadian)-seorang pengangguran, yang mempunyai istri bernama Menuk (Revalina S. Temat). Adiknya yang masih mengenyam bangku pendidikan tinggal bersamanya. Ia juga mempunyai satu anak yang masih kecil, dan memiliki istri yang bekerja. Hal ini tentu membuat dirinya risih. Bukan risih dalam artian negatif, tetapi statusnya yang pengangguran membuat ia kadang mempunyai emosi yang berlebih ketika ia berpikir dirinya belum bisa membuktikan apa-apa.

Yang kedua adalah keluarga Tan Kat Sun (Hengky Solaiman), yang mempunyai istri Lim Giok Lie (Edmay) dan anak bernama Hendra (Rio Dewanto). Tan Kat Sun adalah penganut agama budha yang taat, dan mempunyai restoran masakan khas cina yang cukup digandrungi warga sekitar. Tan Kat Sun mempunyai toleransi beragama yang tinggi. Menuk (seorang  Muslimah taat) yang menjadi pelayan di restorannya pun merasakan hal itu. Tetapi sayangnya, prinsip hidup Hendra yang kadang kerap bersebrangan dengan ayahnya, membuat kehidupan keluarga mereka kadang begitu dingin. Apalagi dulu Hendra sempat mempunyai kisah manis yang berujung pahit bersama Menuk.

Kemudian ada Rika (Endhita) seorang janda yang baru saja berpindah agama, dan mempunyai anak yang rajin mengaji bernama Abi (Baim). Masyarakat sekitar sulit menerima hal itu, termasuk pada awalnya, Abi, juga belum bisa menerima kepindahan kepercayaan yang dilakukan oleh ibunya. Tetapi Surya (Agus Kuncoro Adi)-seorang aktor figuran serabutan yang ingin mewujudkan mimpinya, malah memuji keberanian Rika melakukan keberanian besar dalam hidupnya, dan seiring berjalannya waktu semakin menyukai Rika.




Hanung Bramantyo yang dalam perjalanan karirnya cukup sering menahkodai film-film bertema spiritual, kali ini mencoba membuat tema spiritual yang universal (tidak dalam cara pandang Islam saja), namun tetap tidak meninggalkan ciri khasnya. Suguhannya pun tidak terkesan menggurui, dan membiarkan penonton menerka sendiri apa yang sebenarnya mereka cerna dari sajian yang dipersembahkan. Kualitas akting para pemain di film ini pun cukup mumpuni.  Revalina tampil cukup ciamik. Lagi-lagi Reza Rahadian memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Agus Kuncoro Adi pun sepertinya akan mendapatkan tempat tersendiri di hati penontonnya. 

Walaupun sama-sama diilhami dari kisah nyata dengan Sang Pencerah (2010), ? mungkin tidak melampaui dengan apa yang telah dilakukan oleh film pendahulunya tersebut. ? tidak memberikan sesuatu yang lebih segar daripada Sang Pencerah (film lokal terbaik 2010 menurut saya).


Hanung sepertinya harus lebih teliti lagi memerhatikan detil-detil yang bisa mengganggu niatnya menyampaikan pesan kepada masyarakat dan tidak membuat ketersinggungan. Seperti contohnya, film ini sempat diprotes oleh sekretaris satkorcab banser kota Surabaya, karena tidak setuju dengan sifat Soleh dalam film ini yang emosian. Begitu juga dalam Sang Pencerah, yang mengusung tokoh Muhammadiyah, Hanung juga berusaha memunculkan orang NU di dalamnya, meski lagi-lagi tidak sesuai kepribadian orang Nahdliyin.  
Namun terlepas dari semua itu, ? tampil cukup memuaskan. Maksud dan tujuan Hanung yang baru,  tim yang hebat dan kemampuan akting para pemainnya, membuat ? tetap patut diapresiasi tinggi.


9,0/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar