Sabtu, 21 Mei 2011

Jamila dan Sang Presiden





Jamila (Atiqah Hasiholan), adalah seorang pelacur yang menyerahkan diri pada pihak berwajib, lantaran ia baru saja membunuh seorang menteri bernama Nurdin (Adjie Pangestu). Ia kemudian dijebloskan ke Lembaga Permasyarakatan di luar kota atas perintah langsung dari presiden. Di sana, Jamila mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari seorang kepala sipir perempuan bernama Bu Ria (Christine Hakim). Berbeda halnya dengan Surya (Surya Saputra)-bawahan ria, yang sangat simpati dengan Jamila. 

Jamila mempunyai masa lalu yang sungguh kelam. Ia dijual oleh ayahnya sendiri kepada mucikari, namun kemudian berhasil meloloskan diri. Tak lama, ibunya langsung menitipkan Jamila pada sebuah keluarga di kota, agar ia bisa mendapatkan hidup yang lebih baik di kemudian hari. Tetapi di keluarga itu, terdapat seorang ayah dan anak laki-laki yang kerap kali malah menjadikan Jamila sebagai hasrat pemuas seksualnya. Dan lagi-lagi ia melarikan diri. Ia kemudian bertemu dengan Susi (Ria Irawan), seorang pelacur yang pada awalnya mengayomi Jamila dan akhirnya menganggapnya seperti saudara.

Ibrahim (Dwi Sasono), seseorang yang amat mencintai Jamila, bersama dengan Malik (Marcelino Lefradnt)-seorang pengacara, yang dulu pernah bekerjasama dengan Jamila, berusaha menolong Jamila agar ia terbebas dari hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan. Pertolongan mereka untuk memintakan grasi pada presiden selalu ditampik Jamila. Ia merasa, dengan cara seperti inilah, ia bisa 'resmi' mati. Apalagi ia merasa gagal untuk menjaga adik perempuannya.
Suasana tambah keruh saat pimpinan massa bayaran yang mengatasnamakan ormas Islam (Fauzi Baadila), terus berkoar-koar di sana sini.







Ratna Sarumpet yang aktif bergelut di dunia panggung teater dan menjadi aktivis organisasi sosial ini, berusaha mengadaptasikan naskah teater berjudul Pelacur dan Sang Presiden, ke dalam medium layar lebar berjudul Jamila dan Sang Presiden. Dua medium itu sangatlah berbeda dan untuk mengadaptasikannya membutuhkan usaha yang tidak ringan. Banyak kejanggalan-kejanggalan yang tak bisa diselesaikan dengan baik oleh Ratna.

Yang paling menonjol mungkin adalah bahasa dialog yang terasa sangat baku. Saya tak tahu apakah itu murni usaha dari Ratna untuk tidak meninggalkan ciri khas teaternya, tetapi hal itu membuat saya tidak nyaman. Kemampuan akting dari Christine Hakim dan Surya Saputra yang sudah teruji pun sepertinya tidak  cukup berkembang karena skenario yang kurang baik. Di film ini, debat-debat antara Surya (Surya Saputra) yang sipir muda, dengan Bu Ria (Christine Hakim)-yang notabene lebih tua, sering menggunakan kata sapaan yang berbeda-beda. (Kadang kamu, anda, atau bahkan Ria). Rangkaian demonstrasi yang dilakukan Fauzi Baadila dalam film ini pun malah seperti propaganda tersendiri. Akting pembantu rumah tangga dan pak haji yang niatnya serius pun malah membuat saya terbahak-bahak. Berkat cukup banyaknya kejanggalan yang saya rasakan, penyampaian pesan untuk mencegah pelacuran anak kecil dan perdagangan wanita malah lebih banyak memunculkan pertanyaan. Satu hal, akting Jajang C. Noer disini, walaupun mendapatkan porsi yang sangat sedikit, membuat saya cukup terpukau.

Saya yakin seyakin-yakinnya, bila naskah film ini ditelaah, dikaji, dan diperiksa lebih dalam lagi, akan menghasilkan karya yang sudah cukup bagus ini menjadi sempurna.



8,2/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar