Senin, 06 Januari 2014

The Place Beyond the Pines (2013)





Pemuda gagah nan tampan dengan tato semrawut di badannya itu menghela nafas panjang sembari memain-mainkan pisau lipat miliknya. Sesaat kemudian pintunya digedor, “Show time!” Berlalulah ia membelah kerumunan karnaval (baca: pasar malam) menuju arena tempat ia biasa beratraksi. Atraksi yang di sini kita kenal sebagai: Tong Setan.

Luke (Ryan Gosling) di sana bertemu dengan Romina (Eva Mendes), mantan kekasihnya yang pernah ia tinggalkan begitu saja setahun yang lalu. Luke kemudian mengantarkannya pulang dan ketika sampai di depan rumah, perempuan itu hanya mengucapkan, “Just wanted to see you again.” Kemudian melalui pancaran mata Luke kita bisa membaca perasannya yang campur aduk. Belakangan kita ketahui bahwa ia kerap mampir ke tempat Romina dan pada suatu kesempatan Luke justru bertemu dengan ibunda Romina yang tengah menggendong seorang bayi. “He is yours. You wanna hold him?” Dalam sekejap ada yang bergulung di balik dadanya.

Luke yang tidak ingin anaknya seperti dirinya—tumbuh tanpa ayah—mencoba bertanggung jawab dengan akan mengurus Romina dan anaknya. Tetapi tentu saja dunia tak semudah itu. “I haven’t heard from you in over a year. You just took off.” Kemudian bertemulah Luke dengan Robin (Ben Mendelsohn) dan terencanalah beberapa rangkaian perampokan bank karena dorongan tanggung jawab keayahannya yang mendadak muncul—dan kemampuannya mengendarai motor yang sungguh menakjubkan. Dari berbagai rangkaian kegiatan barunya tersebut, akhirnya Luke bertemu dengan polisi lurus nan ambisius, Avery (Bradley Cooper), yang mendadak menjadi pahlawan di Schenectady.

Penonton mana yang sanggup menolak penawaran ini: Ryan Gosling dan Bradley Cooper berada dalam satu film, pria kece Hollywood peraih nominasi Oscar. Ryan Gosling juga bertemu lagi dengan Derek Cianfrance sang sutradara, setelah kerja sama mereka dalam Blue Valentine empat tahun silam. Belum lagi nama-nama seperti Eva Mendes dan Ray Liotta. Naskah film ini sendiri pun juga berkat obrolan Derek dan Ryan di suatu waktu yang mengungkapkan bahwa dalam hidup Ryan, satu hal yang keinginannya belum kesampaian adalah merampok bank! 

Derek membagi film ini menjadi tiga babak. Babak pertama adalah lika-liku kehidupan Luke. Pertemuannya dengan Romina dan anak bayinya, rasa tanggung jawab yang meletup muncul, dan segala upayanya untuk taking care of them. Babak kedua adalah penceritaan Avery, seorang polisi muda yang lurus dengan ambisi besar yang berada di sekitaran polisi kotor dan ayah yang kerap memojokkannya karena profesinya. Babak ketiga adalah penceritaan mengenai anak Luke, Jason (Dane DeHaan) dan anak Avery, AJ (Emory Cohen) yang menginjak usia remaja. Jalinan ketiga cerita ini erat hubungannya dan mempunyai benang merah satu sama lain. 

Cerita keluarga dengan kepiluan semacam ini akan berhasil dengan skenario yang rapi dan dialog yang jujur serta chemistry antar setiap pemain. Dan di sini semuanya terasa cocok dan pas. Film ini sebetulnya bermain pada wilayah yang mungkin dekat dengan kita: perbuatan manusia yang tak bisa begitu saja dijelentrehkan sebagai hitam dan putih. Di dalam keambiguitasan sikap dan perilaku seseorang yang berjuang, banyak hal yang sebetulnya tak dapat disederhanakan begitu saja. 

Di paruh film kita disuguhkan kenyataan bahwa kedua tokoh, Luke dan Avery, mempunyai anak. Dan—kemudian Derek membawa kita ke lima belas tahun ke depan—yang disajikan pada penceritaan pada babak ketiga adalah hubungan Jason dan AJ yang tak sengaja berteman dan bagaimana akhirnya sikap mereka setelah menerima informasi yang mengejutkan tentang masa silam. Memang, pada bagian ini agak terseret-seret dengan logika yang agak dipaksakan. Film ini mengalami ujiannya ketika saat film mencapai puncak ketegangannya dengan kisah Luke, tiba-tiba cerita dan karakter seperti dipaksa berganti untuk masuk pada babak kedua. Sama sekali tidak buruk, tetapi ketegangan dan momen-momen menyentuh yang ada pada babak pertama seperti dijarah begitu saja. Dan memang, yang paling bersinar dalam film ini adalah kisah Luke dengan segala dinamikanya.

The Place Beyond the Pines menampilkan seni peran berkelas, wabil khusus Ryan Gosling. Pengembara flamboyan yang tercebur pada kenyataan yang menohoknya, yang membuatnya obsesif untuk melakukan apa pun yang dirasa perlu. “Look, I wanna take care of you. I wanna take care of my son. That’s my job.” Eva Mendes juga bersinar sebagai perempuan yang kuat. Ia tidak mengharapkan Luke kembali, ia menghormati kehidupannya saat ini, dan ia membiarkan kata-kata—kenyataan—meluap di depan Luke, walau akhirnya laki-laki tersebut mengetahui sendiri seperti apa kenyatannya. Bradley Cooper rasa-rasanya juga belum pernah sebaik ini. Seorang polisi yang hidup dalam lingkungan manipulatif dan penuh strategi ketika ia berusaha disingkirkan. Ben Mendelsohn juga tampil seperti sosok yang kita bayangkan: partner in crime Luke yang kompak karena pengalaman dan kematangannya, tetapi kadang juga menyebalkan. Mendelsohn yang selalu kesepian itu melongo ketika Jason menghampirinya, “You’re Luke Glanton’s son?” Katanya dengan nada pelan padahal kita semua tahu jantungnya tentu saja ingin meloncat keluar. Akting duo remaja Dane DeHaan dan Emory Cohen juga apik. Dane berhasil mewarisi sifat Luke yang dingin sedangkan Emory berhasil tampil sebagai remaja kaya raya tipikal: doyan party, loyal, tetapi merengek ketika digentak ayahnya.

Derek bukan hanya menyajikan drama. Ia juga mengirim cerita pahit tentang takdir, tentang resultan masa lampau. Drama panjang yang emosional sekaligus memberikan akhir dengan rangkaian spekulatif yang tak membutuhkan kata.


 


 

 


4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar